Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Kita, sang manusia ini, adalah makhluk berkultur agung. Kitalah, makhluk berbudaya luhur mulia. Manusia dan budaya, serta budaya dan manusia, sungguh tak dapat dipisahkan. Keduanya bagaikan sekeping koin yang memiliki kedua sisi utuh menyatu.
Lewat tulisan berlatar belakang kultur ini, kita pun akan berkenalan dengan tokoh agung, sang โSemarโ.
Semar alias Batara Ismaya Batara Iswara Jurudyah Punta Prasanta Semar. Siapakah dia sesungguhnya? Apa saja keunggulannya? Apa pula keistimewaannya?
Dia pun berperan sebagai tokoh utama (tokoh sentral), di dalam punakawan di dunia pewayangan suku Jawa, bahkan Sunda, dan juga Bali.
Sungguh, dia ternyata berkarakter agung dan mulia. Karena dia adalah seorang pengasuh dan penasihat bertangan dingin. Dia juga sebagai โpembimbing dan penuntunโ para kesatria di dalam pementasan wiracarita Mahabharata dan Ramayana.
Ternyata sang pria agung ini pun memiliki sejumlah keistimewaan lain, yakni dia sebagai pribadi yang memiliki “kesaktian, kearifan, serta kebijaksanaan.” Di dalam konteks ini, saya mau menyebutnya, sebagai si โsang sempurnaโ.
Di balik itu, dia juga memiliki tugas sebagai penuntun manusia, agar berbudi pekerti mulia dan menjunjung tinggi kebenaran.
Uniknya lagi, di dalam menjalankan karya menuntun dan mengayomi, dia pun menyamar sebagai seorang hamba. Duh, Gusti Allah, sungguh, inilah pribadi yang sangat rendah hati.
Lewat potret kepribadian sang Semar, hati saya pun tertegun. Bukankah peran ini pun sejatinya adalah peran kita juga? Bukankah kita ini pun adalah hamba yang tak berguna, kata rasul Paulus.
Kini, saya teringat akan sebuah titel abadi, yang disematkan oleh gereja kepada Sri Paus, sebagai โhamba dari segala hamba Allahโ (servus servorum dei).
…
Kediri, 27ย Septemberย 2023

