Yesus berkata: “Tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik” (Luk 16: 8).
…
|Red-Joss.com | Walaupun perumpamaan ini berkisah tetang perilaku orang yang jahat (bendahara yang tidak jujur), tapi ada pelajaran yang bisa kita ambil, yaitu hal apa yang harus kita hindari, dan hal apa yang bisa kita pelajari.
Point Pertama:
Cerdik tapi bodoh. Ini harus kita hindari.
Lihat! Kepercayaan yang diberikan ternodai oleh sikap yang tidak jujur. Orang ini telah menyalah-gunakan kepercayaan dari tuannya. Maka, tuannya meminta pertanggungjawaban atas segala kepemilikan yang dipercayakan kepadanya.
Pada kita diperlihatkan, bagaimana hidup seorang yang cerdik, tapi bodoh, yaitu seorang yang membangun masa depan dengan kebodohan (mendirikan rumah di atas pasir. Bukan di atas batu).
Dia berkata:
“Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.” Artinya dia ini pemalas dan tinggi hati. Dia membangun masa depannya dengan memanfaatkan orang lain. Seandainya dia mengakui kesalahannya kepada tuannya mungkin saja dimaafkan.
Artinya adalah kebodohan membangun kehidupan di atas dosa, tetapi alangkah bijaknya orang yang hidup di atas pertobatan. Hidup di atas kasih karunia Tuhan.
Point Kedua:
Bodoh tapi cerdik. Ini bisa kita pelajari.
Hidup manusia di dunia ini pada dasarnya adalah singkat. Orang jarang yang umurnya di atas 90 tahun.
Kita bisa belajar dari orang ini yang menatap jauh ke depan dan mempergunakan waktu yang ada sebelum dia dipecat oleh tuannya.
Pelajaran yang kita dapatkan adalah, bagaimana kita memanfaatkan segala anugerah dan berkat Tuhan dalam kehidupan kita di dunia ini untuk memperoleh kehidupan kekal.
Pada dasarnya, apa pun yang kita pegang dan miliki di dunia ini akhirnya akan kita tinggalkan, ‘tak satu pun dapat kita bawa’. Betul? Akan tetapi, kepemilikan kita yang ada di dunia ini sebagai anugerah Tuhan dapat kita pakai untuk memperoleh harta yang abadi.
Akhirnya … Yesus berkata, “Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”
Jika kita dapat dipercaya dalam menjalani kehidupan di dunia ini dengan baik, maka Tuhan juga akan mempercayakan pada kita kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang kekal bersama Allah.
Maka, jadilah seorang Ayah, Ibu, Anak yang dapat dipercaya.
Jadilah gembala (dan kaum berjubah) yang dapat dipercaya.
Jadilah pegawai atau karyawan yang dapat dipercaya.
Jadilah pedagang yang dapat dipercaya.
Jadilah orang yang dapat dipercaya.
Ini penting sekali: Jadilah orang kepercayaan Tuhan.
Maka hidupmu akan selamat di bumi dan di surga. Kelak, kita ketemu di surga dan memperoleh hidup yang kekal. Amin.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

