“Guna mempertahankan kelangsungan hidup sekolahnya, Kepala Sekolah itu rela memberikan jasa antar-jemput muridnya dari dua Pondok Pesantren menggunakan mobil pribadinya”.
…
| Red-Joss.com | Tempel Sleman, 23 September 2023. SMA Ma’arif 1 Sleman, Merdikorejo, Tempel Sleman memang hanya memiliki 33 murid. Dari jumlah itu, 19 orang dari dua Pondok Pesantren wilayah Tempel. SMA Ma’arif yang sudah berdiri sejak 40 tahun yang lalu (th 1983), adalah salah satu aset pendidikan yang dimiliki Kabupaten Sleman, khususnya Kapanewon Tempel.
Kepala Sekolahnya, Bapak Wahyu Herlambang SS yang ditemui pada Jumat, 22 September 2023 yang lalu mengatakan, bahwa banyak dari siswanya adalah pindahan.
Guna mempertahankan kelangsungan hidup sekolahnya itu, beliau bersedia memberikan jasa antar jemput dengan mobil pribadi warisan orangtuanya.
Setiap pagi, Pak Wahyu menyetir sendiri mobil Toyota Kijang tahun 1991, yang berwarna merah maron, dari rumahnya yang terletak di Jalan Magelang km 16.5 Cungkuk, Margorejo, Tempel. Menyusuri jalan raya, kemudian masuk ke jalan desa ke desa Jlapan. Jarak dari rumahnya ke desa Jlapan sekitar 2,5 km, kemudian beliau menjemput 10 orang siswa di Pondok Pesantren Dzikrullah, kemudian ke sekolahan yang berjarak sekitar 6 km.
Sesampai di sekolah, beliau menurunkan siswa, lalu balik lagi ke Pondok Pesantren Al Amin Plotengan menjemput 5-8 siswa. Dari Pondok keduanya itu, melalui Pasar Tempel, menuju ke Utara, sekitar 3 km sampai ke sekolahnya. Tepatnya di Sono wetan, sebelah selatan Bangjo desa Merdikorejo. Untuk aktifitas itu rata-rata ditempuh 45 menit tiap pagi & 45 menit ketika siang mengembalikan muridnya ke Ponpes.
Pak Wahyu mengatakan, bahwa kebanyakan siswanya itu dari golongan yang tidak mampu. Dengan jasa antar jemput ini diharapkan mereka dapat menghemat biaya transportasi. Meskipun, sesungguhnya mereka sudah diberikan keringanan biaya sekolah. Sehingga diharapkan mereka senang bersekolah di sini.
Kepala Sekolah yang akrab kepada siapa pun itu, termasuk dengan murid-muridnya itu tampak tidak segan menyapu ruangan kantornya sendiri.
Sosoknya yang mencintai dunia pendidikan itu telah mengabdi selama 23 tahun di sekolahnya, di antaranya 17 tahun menjadi Kepala Sekolah.
Sekalipun sehari-hari beliau selalu memikirkan cara menutup biaya operasional sekolah, tapi beliau senang, ketika mendengar alumni sekolahnya mampu melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
…
Sadono Hadi/KIM Empel

