| Red-Joss.com | Bagaimana rasanya, ketika kita ditolak dan tidak dipercaya orang? Apalagi, jika penolakan itu datang dari keluarga sendiri!
Sedih, sesedih-sedihnya hati yang dirasakan Ibu NN. Ia terpukul dan jiwanya guncang.
Bagaimana jiwa Ibu NN tidak terguncang. Anaknya yang semata wayang, AG minta agar tidak diurus lagi! Meski tinggal serumah, tapi AG ingin memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Duh!
AG tersinggung dan meradang, karena diingatkan oleh Bapaknya! AG merasa dipojokkan, dan marah.
Padahal tujuan Bapaknya itu baik. AG agar tidak menuruti gaya hidup glamour. Meski uang itu hasil kerja kerasnya sendiri. Tapi sungguh sayang sekali, jika uang itu dihambur-hamburkan tanpa guna. Lebih baik uang itu ditabung untuk masa depan.
Cerita Ibu NN yang tetangga depan rumah itu membuat saya prihatin. Anak diingatkan orangtua, tapi tidak mau menerima saran kebaikan dan kebenaran itu.
AG merasa sudah besar dan dewasa, sehingga berhak untuk menentukan masa depannya sendiri. AG tidak mau diatur seperti anak kecil yang minta disuapi! AG lupa, bahwa ia tetap seorang anak dalam keluarga Ibu NN.
Oleh Bapaknya, AG disilakan kos dan mandiri, jika itu keinginannya. Tapi nyatanya AG tidak kunjung ke luar rumah, dan kos. Jika ditanya Ibunya, AG malas menjawab, dan tak acuh.
Persoalan Ibu NN yang tetangga rumah, dan seperti saudara itu, juga terjadi dalam banyak keluarga. Ketika hidup konsumtif dan gengsi dengan mengada-ada yang tidak ada. Demi dipuji dan ‘ben diarani’.
Saya paham, memahami suami NN yang jengkel pada AG yang merasa lebih hebat dan pintar daripada orangtuanya. Ilmu pengetahuan boleh tinggi mumpuni, tapi kalah pengalaman dibandingkan dengan orangtua. AG lupa diri, sulit diatur, dinasihati, dan mau menang sendiri.
Sebagai tetangga, saya sekadar berbagi sumbang saran dan pengalaman.
Keluarga itu ibarat menaman padi. Jika tidak dirawat baik tentu bakal tumbuh rumput di sekitaran padi itu. AG dikelilingi rumput. Jika salah mencabut, tanaman padi itu bakal tercerabut.
Sesungguhnya, kita sering abai dan lupa diri. Ketika berdoa “Bapa Kami.” Kita minta diberi rezeki, tapi untuk diri sendiri dan berfoya-foya. Sehingga kita lupa berbagi pada sesama. Padahal rezeki yang dikelola baik itu beranak pinak dan mendatangkan sukacita.
Saya akhirnya menyerahkan semua keputusan itu pada Ibu NN dan suami. Jika AG ingin mandiri dan
kos itu tak masalah, karena sebagai pembelajaran diri dan bertanggung jawab dengan hidupnya.
Sebagai orangtua, kita tidak boleh direjam ketakutan sendiri yang belum tentu terjadi. Lebih baik kita berserah ikhlas pada kehendak Allah, karena IA memberikan yang terbaik untuk kita.
Berani membuka hati untuk belajar agar hidup ini makin baik, dan lebih baik lagi.
…
Mas Redjo

