“Hidup itu tidak untuk ditangisi, tapi perlu diperjuangkan, dirayakan dan disyukuri.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Pernahkah Anda menangis, karena beban hidup yang berat? Anda berlinang air mata, karena merasa tak berdaya ditinggal selamanya orang yang dicinta? Pernahkah Anda menangis putus asa hampir menyerah? Kita semua pasti pernah meneteskan air mata dan menangis.
Tangisan, tetesan air mata itu jauh lebih kaya makna ketimbang berjuta kata. Menangis itu soal rasa, cinta, pengharapan, dan soal iman. Tangisan itu juga tidak hanya soal kesedihan, kehilangan, dan tidak pula soal beban hidup. Tangisan juga tanda pengharapan, kebahagiaan, dan kedalaman iman.
Menangislah selama masih ada air mata. Tapi menangis dengan bijaksana untuk mengolah rasa. Karena rasa itu kadang membuat logika ini tidak punya daya.
Menangislah dengan dasar pengharapan. Karena pengharapan selalu memberi jalan untuk sebuah pilihan dan keputusan. Tujuannya agar kita tidak menjadi budak kesedihan, sehingga terlalu lama dalam keterpurukan. Tapi sejenak berhenti menenangkan hati untuk mengambil pilihan dan keputusan. Karena satu pilihan itu membawa perubahan, dan satu keputusan menentukan masa depan.
Jika ingin menangis, menangislah dengan iman. Karena selalu ada mujizat dalam iman. Iman membuat yang mustahil itu menjadi nyata. Rasa sakit kadang menjadi berkat. Sesungguhnya Tuhan tengah menempa hidup kita. Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi kekuatan kita. Bersabar dan tabah menangung beban. Tetap setia dalam perjuangan, berdoa, dan berusaha. Karena pengalaman sepahit apa pun di tangan Tuhan akan dirubah menjadi mutiara indah. Di sinilah kadang kita bisa menangis bahagia.
Sesungguhnya saat menangis itu Tuhan sedang mendandani hidup kita. Tuhan membutuhkan 4B dari kita:
Berserah dalam kesetiaan,
Bersabar dalam doa,
Bersyukur dalam hidup, dan
Bersukacita dalam berusaha.
Hidup itu tidak untuk ditangisi, tapi disyukuri dan diperjuangkan.
Jangan lupa sukses dan bahagia.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

