| Red-Joss.com | “Apakah seorang pendosa mempunyai tempat di hati Tuhan?”
Apa jawabanmu? Bagaimana pendapatmu? Apa buktimu?
Bukti pertama adalah hidup kita ini. Kita adalah seorang pendosa, tapi terus-menerus dikasihi oleh Tuhan.
Bukti kedua adalah pengalaman Santo Paulus. Dia yang dulunya seorang penghujat, pengkhianat dan seorang yang ganas, tapi dikasihi oleh Tuhan. Dia sadar, bahwa sikapnya yang seperti itu, karena dia tidak beriman (di luar imannya).
Yang harus saya garis-bawahi adalah “Aku telah dikasihi oleh-Nya.” Saya sungguh tersentuh dengan kalimat ini. Mengapa? Karena saya sering mempunyai sikap yang sama. Bahkan lebih parah. Jelas-jelas beriman, tapi sering bersikap sombong, mudah tersinggung, suka marah, dan sering melakukan kejahatan. Bagaimana dengan Anda?
Apa pun yang terjadi, kita benar-benar membutuhkan belas kasih Tuhan. Kita rindu pengampunan-Nya. Kita rindu kasih-Nya. Kita rindu sambutan-Nya yang hangat. Kita rindu hati-Nya yang menjadi tempat untuk hidup kita, orang berdosa ini.
Kini, kita mempunyai jawaban, bahwa seorang pendosa, semua orang berdosa, kita ini mempunyai tempat di hati Tuhan.
Coba kita lebih jauh masuk ke dalam rahmat pengampunan ini, dengan bertanya, “Mengapa Tuhan memberi tempat di hati-Nya untuk setiap orang berdosa?”
Jawaban pertama adalah karena Tuhan tidak menginginkan satu orang pun dibiarkannya hilang. Jawaban kedua adalah karena yang hilang itu harus dicari. Mengapa? Bagi Tuhan setiap pribadi itu penting dan milik-Nya. Yang hilang itu adalah pribadi yang paling membutuhkan pertolongan. Pribadi yang sedang terluka, ditinggalkan, dan terbuang. Pribadi yang hilang itu juga pribadi yang sedang mengalami pergumulan, pergulatan, kegelisahan, kebingungan, dan penderitaan yang luar biasa. Tuhan benar-benar mencarinya sampai ketemu. Itulah sebabnya, mengapa nama Tuhan adalah belas kasih.
Kita harus menempatkan nama-Nya yang adalah belas kasih ini di dalam hidup kita. Sehingga, ketika kita berada dalam posisi yang hilang, terluka, merasa ditinggalkan, dibuang, dan dalam kesulitan yang hebat. Kita sadar, bahwa ada pribadi istimewa yang mencari kita dan membawa kita untuk pulang.
Ingat pengalaman Santo Paulus. Karena berkat rahmat dan kasih Tuhan, dia memiliki hidup yang baru. Hal lain yang didapatkan adalah, ketika dia diampuni dan dikasihi oleh Tuhan, maka dia pun mampu memberikan pengampunan kepada yang lain. Kita juga percaya, bahwa pengampun itu menyembuhkan dan memulihkan apa saja “yang hancur dan hilang.”
Sekali lagi, ingat selalu pengalaman Santo Paulus, khususnya proses penyembuhannya. Pertama-tama dia menyadari kelemahan, kelalaian, dan kedosaannya. Ia lalu bersyukur kepada Tuhan atas rahmat, belas kasih dan pengampunan yang dia terima.
“God leaves the 99 to find 1. This is love.”
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

