| Red-Joss.com | Karena tidak mau ditipu oleh mata, saya bertanya pada hati nurani. Benarkan itu?!
Bertanya agar saya tidak terlena, karena dipuji dan diapresiasi. Tapi agar saya sadar diri dan makin rendah hati.
Bertanya untuk refleksi diri agar saya juga tidak mudah terbius kamuflase orang yang bermanis mulut.
Sesungguhnya, dengan melihat sorot mata orang, kita membaca jendela jiwa. Sedang bertanya pada hati nurani agar kita tidak salah menilai, apalagi salah langkah yang rugikan diri sendiri atau orang lain.
“Kalau matamu menyebabkan kau berbuat dosa, cungkil dan buanglah. Lebih baik kau hidup dengan Allah tanpa satu mata daripada dibuang ke dalam api neraka dengan kedua mata” (Mat 18: 9)
Berani mendidik mata, kita menjadi bijaksana. Sorot mata yang tidak pancarkan pribadi sombong, remehkan orang lain, atau iri hati. Melainkan mata yang mampu pancarkan belas kasih dari pribadi yang rendah hati.
Dengan mendidik mata pula, kita berani tampil jujur dan apa adanya. Kita tidak harus mengada-ada, berkamuflase, untuk menipu, atau menyenangkan orang lain demi gengsi.
Sesungguhnya, ketika mata ini tertipu oleh tampilan orang, siapa yang mau disalahkan dan kita mau menyalahkan siapa?
Selalu bertanya pada hati nurani, karena di sana tersembunyi kejujuran dan kebenaran Sang Ilahi. Mata ini tidak untuk menipu orang lain atau menipu diri sendiri, ketika orientasi hidup kita untuk menyenangkan hati Allah. Hidup saling mengasihi bagi kemuliaan-Nya.
…
Mas Redjo

