| Red-Joss.com | Pagi hari ini Jakarta diguyur hujan lebat, sehingga sebagian daerah tergenang banjir, dan jalanan macet.
Saya membutuhkan waktu lebih dari setengah jam hingga akhirnya memperoleh taksi guna mengantar saya ke jalan Sudirman untuk menghadiri rapat.
Mas Irwan, nama sopir yang saya baca di dashboard taksi itu. Dalam obrolan pagi itu, Mas Irwan menceritakan rumah tangganya yang kandas. Ia berpisah dengan istri dan ke 4 anaknya, karena tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
Ia bekerja serabutan, hingga jadi sopir taksi. Tapi ia memiliki tekad dan semangat berkobar untuk dapat bersatu dengan keluarganya kembali.
“Saya mau menata hidup dulu,” desah Mas Irwan lirih, sambil memandang jauh ke depan, seakan tengah meneropong masa depannya.
Pulang rapat, saya naik taksi yang disopiri Baren.
Berbeda dengan Irwan, ternyata Baren yang usianya menjelang 50 tahun itu belum berkeluarga. Alasan Baren belum berani menikah, karena kondisi pertaksian yang berat dengan maraknya taksi online.
Ia lalu cerita tentang teman-teman yang keluarganya bubar, karena pandemi dan krisis ekonomi ini.
Harapannya untuk membawa uang pulang kerumah juga sulit, meski menarik taksi hingga malam hari.
Ada sopir yang merana, dan sakit, karena tidak kuat menahan beban hidup yang berat.
Di tengah kebingungan memenuhi kebutuhan sehari-hari dan usaha menemukan jalan lain itu, mereka berkejaran dengan kebutuhan hidup.
Keluarga yang berantakan dan fisik yang tidak kuat menahan beban kesedihan menjadi cerita banyak teman, sehingga Baren bertahan untuk hidup membujang.
Ingatan saya melayang kembali, ketika suatu sore sepulang kantor Bapak berkata kepada Ibu, bahwa ia tidak lagi bekerja.
Tampak ibu terdiam mendengarnya.
Mungkin Ibu kaget dan terpukul, karena Bapak sebagai kepala rumah tangga yang diandalkan. Anak 4 sekolah semua, bayar cicilan rumah, dan biaya hidup keseharian.
Pagi itu saya melihat Ibu pulang dari pasar sambil membawa kacang tanah mentah.
Bersama Bapak, Ibu menggoreng kacang itu lalu ditiriskan minyaknya. Setelah dingin, kacang goreng itu dimasukkan ke kantong-kantong plastik kecil.
Sore harinya mereka berjalan kaki menawarkan kacang goreng dagangan itu ke tukang-tukang jamu atau warung yang ada di sepanjang jalan di sekitar rumah kami.
Terlihat jelas tatapan mesra Ibu pada Bapak. Tidak ada sedikitpun sinar mata penghakiman, apalagi nada menyalahkan, karena Bapak menganggur. Ibu tampak telaten, sabar, dan tabah menjalani hari-hari sulit.
“Aku percaya padamu, Mas. Kita mulai dari nol lagi. Aku senantiasa bersamamu,” tegas Ibu menyemangati Bapak. Suara Ibu yang lembut ibarat kidung cinta nan tulus, yang meluap dari kedalaman hati.
Pendampingan Ibu adalah cahaya cinta yang terangi langkah-langkah Bapak agar tidak terantuk batu. Pribadi jujur itu mudah peroleh wadahnya. Terbukti, tidak lama menganggur, Bapak diajak bekerja oleh seorang sahabatnya yang pernah ditolongnya.
Langkah-langkah cinta, setia dalam kebersamaan untuk menuju tepian bahagia.
…
Herry Wibowo

