| Red-Joss.com | Ketika aku melihat dengan kedua mataku: terbatas! Tapi ketika kupejamkan mataku: tak terbatas.
Ketika aku melihat dengan kedua mataku: tiba-tiba ada tetes air mata. Ketika aku pejamkan mataku: air mata ini mengalir deras. Oh, aku banyak kesalahan dan dosa.
Ketika aku melihat dengan kedua mataku: tiba-tiba jadi kosong. Tapi ketika kupejamkan mataku: ada kerinduan yang sangat dalam. Tuhan, kasih-Mu selalu baru…
Ketika aku melihat dengan kedua mataku: cepat bosan. Tapi ketika aku pejamkan mataku: ada hal-hal yang tidak terduga. Ada kedamaian di hati. Tuhan, Engkau selalu melindungiku.
Ketika aku lihat dengan kedua mataku: banyak kemunafikan kulihat. Tapi ketika aku pejamkan mataku: semakin diminta untuk hati-hati, ketika berelasi dengan seseorang, sebab tidak mudah melihat apa yang ada di dalam hati seseorang.
Dari cara melihat dan memandang saja, ada amat banyak pengalaman yang berbeda.
Kamu boleh percaya atau tidak, bahwa melihat dengan kedua mata dan melihat dengan memejamkan mata memberikan pengalaman yang berbeda.
Itulah sebabnya, kita manusia bisa melihat yang ‘terbatas’ dan yang ‘tak terbatas’.
Saat melihat bisa melihat yang terbatas, kita bisa menguasai. Tapi ketika melihat yang tak terbatas, kita sebaiknya berserah diri, karena hidup ada yang mengatur.
Mari bernyanyi bersama Pemazmur sore ini, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8: 5).
Tuhan, simpan kedua mataku ini pada biji mata-Mu. Alleluia.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

