Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kesepian itu sungguh menyakitkan, ketika seseorang masih muda. Tapi menyenangkan, ketika seseorang beranjak tua.”
(Albert Einstein)
…
| Red-Joss.com | Tulisan ini saya persembahkan untuk para ‘manula’ di mana pun berada. Di saat saya menuliskan coretan ini, saya juga senasib dengan mereka. Itulah saat-saat menjelang akhir ziarah hidup kita di atas wadah bumi maya ini.
Alkitab juga dengan sangat tegas mengatakan, bahwa “batas umur kami 70 tahun atau 80 jika kuat, dan hampir seluruhnya penuh dengan susah dan derita.”
Secara definitif, “sepi atau kesepian” dapat diartikan sebagai ‘kondisi pikiran di mana seseorang merasakan sendiri, terisolasi, dan tidak terhubung dengan orang lain’.
Di saat masa manula itu hadir dan seolah mulai memagut-magut sadarmu, biasanya orang segera merasakan suatu kehampaan yang sangat menyedihkan. Manula itu tidak memiliki teman buat curhat atau sekadar bernostalgia bersama lagi.
Sesungguhnya, justru di saat sepi mencekam itu, ada hal yang sangat bermakna di dalam rasa sepi. Saat sepi itu dijadikan saat emas untuk merenung dan merefleksikan seluruh ziarah hidup ini. Juga, di saat itu, kita pun sudah terhindar dari hiruk pikuk dab keramaian duniawi. Sungguh, inilah saat untuk menenangkan diri ini!
Di saat-saat awal masa pensiunku, (2022), saya sungguh mulai merasakan kehilangan itu. Saya merasa sudah tidak berguna lagi. Bahkan semua handai taulan sudah jauh. Saya pun sudah pergi dan meninggalkan medan juang untuk segera memasuki kamar sepi.
Di saat-saat seperti ini, ada rasa rindu dan rasa kehilangan yang sangat menyakitkan. Spontan datanglah sejumlah pertanyaan retoris yang sungguh menantang. “Apakah saya benar-benar mulai berhenti total dari pekerjaan serta hobiku? Apakah saya masih bisa menjumpai handai taulanku? Dari mana saya akan mendapatkan rezeki, jika ternyata saya sudah tidak bekerja lagi?
Tatkala Anda dan saya, ternyata mampu bertahan dan segera beradaptasi dengan kondisi ekstrem ini, maka bersyukurlah. Artinya Anda dan saya mampu untuk menerima kenyataan pahit ini.
Katakan dengan segera pada diri sendiri, “Wahai sang kesepian, engkaulah sahabat terbaikku! Inilah pratanda, bahwa aku sangat membutuhkan diriku sendiri,” demikian sebuah refleksi dari Rupi Kaur.
Jadi, “kehidupan itu bergerak, laksana orang memasuki sebuah lorong sempit. Makin ke ujung kian sempit!”
…
Kediri, 14 September 2023

