Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Bola Mata sang Guru
Sang
bijak bertutur
manusia berbicara dengan matanya
Tapi
sang guru berbicara dengan bola matanya
Bola
mata sang guru berdendang tentang cinta dan duka di dada
bola
matanya kan berkaca kala muridnya tak paham ajarannya
. . . . . . . . . . . . . .
Ah sang guru sejati
sungguh indah bola-bola matamu
(Pada Sepotong Catatan)
…
| Red-Joss.com | BOLA MATA! Ya, saudara, kita berdendang tentang sepasang “bola mata.” Bukan sebarang bola mata. Melainkan, tentang “Bola Mata Tuhan!”
Saya teringat dengan ‘dua buah perisitwa’ kisah kasih, saat Sang Guru Sejati sempat meneteskan air mata simpati serta bela rasa-Nya.
Biasanya seorang akan meneteskan air mata antara lain, saat dia akan meninggalkan kampung halamannya. Tapi, Yesus sempat meneteskan air mata, justru di saat Dia memandangi kota Yerusalem. Di dalam bayangan-Nya, atau ramalan-Nya, bahwa kota itu kelak akan dikepung dan dihancurleburkan oleh musuhnya. Tutur-Nya, “tidak ada satu batu pun tersusun di atas batu yang lainโ. Semuanya porak poranda!
Peristiwa kedua, di kala Yesus mengunjungi Maria dan Marta saat kematian saudara mereka, Lazarus. Maka, menangislah Yesus karena belas kasih-Nya.
Bola mata Sang Tuhan. Bola mata adalah biji mata, bagian yang paling dalam serta sangat dilindungi. Biji-biji mata adalah simbol kasih sayang dan kesayangan. Dari dalam bola-bola mata itu, tetesan air mata akan mengalir ke luar dan membasahi pipi.
Sepasang bola mata, di sana pun tersimpan rasa empati, bela rasa, dan cinta terdalam. Air mata itu adalah ekspresi dari rasa belas kasih yang mengalir dari dalam lubuk jiwa sang manusia.
Bola mata Sang Tuhan. Itu simbol bola mata kasih sayang sejati. Tuhan mau mendidik kita untuk bersikap bela rasa dengan sesama.
Meratapi dan menangisi adalah ekspresi dari rasa cinta sejati. Sehingga cinta sejati itu akan terekspresikan lewat keheningan dan kedamaian kedipan bola-bola mata.
Tuhan pun telah menunjukkan ekspresi kasih itu kepada kita.
…
Kediri, 13ย Septemberย 2023

