Fr. M. Christoforus, BHK
Bala Bencana Siapakah Engkau
Siapakah engkau
wahai saudaraku bala bencana
rupa dan swaramu sayup senyap
Namun
bongkahan kepedihan telah kau rendakan di sini
Siapakah engkau
wahai
sang angin sang api sang air
Dulu kakek pernah berkisah . . . .
Cucuku malang
akan ada air mata duka di pipimu
(Pada Sepotong Catatan)
…
| Red-Joss.com | Saudaraku nan malang, lewat tulisan ini, kita pun diajak, untuk merefleksikan “makna sejati serta rohani” di balik bala bencana.
Hampir setiap hari kita mendengar dan bahkan menghadapi realitas pahit pedih, bencana alam. Sungguh mengerikan, meresahkan, dan mematikan spirit hidup sang manusia. Bahkan, sampai-sampai ada manusia yang berseru histeris, “Tuhan, di manakah Engkau tatkala bala bencana datang menghadang kami?”
Ada tiga kekuatan dasyat alam. Antara “air, angin, dan api.” Alias Tiga A. Siapa yang dapat menghadangnya? Siapa yang mampu meredamkannya? Siapa pula yang sanggup mengusirnya? Ya, itulah ketiga kekuatan dasyat alam.
Hari ini, dan kapan pun bumi kita selalu didera derita. Gempa bumi dasyat yang telah menghancurleburkan kehidupan. Apalagi jika gempa bumi itu disusul dengan ganasnya gelombang tsunami. Sungguh, sang manusia hanya mampu bertekuk lutut di hadapannya.
Secara rohani, orang berpendapat, bahwa ini adalah ujian terberat yang datang dari atas. Tuhan telah menegur kita lewat amarah-Nya.
Saudara, entah apa pun dasar dan alasannya, bukankah lewat setiap peristiwa dasyat dalam hidup kita, justru memiliki pesan dan makna? Apa pesan alam kepada kita? Apa kehendak terselubung Sang Tuhan bagi kita?
Sesungguhnya, bencana secara rohani itu tak kalah dasyat. Ia tidak saja merenggut tubuh jasmani kita, tapi juga tubuh rohani kita. Bukankah perbuatan dosa juga adalah sebuah bencana secara rohani?
“Semoga, Tuhan tidak tidur di saat badai dasyat menghadang biduk kehidupan kita!
…
Kediri, 12ย Septemberย 2023

