| Red-Joss.com | Kenangan itu indah, bahkan sangat indah, khususnya saat-saat merajut kebersamaan dengan pasangan hidup.
Dalam kenangan tentang Nenek dan Kakek, saya melihat pancaran mata mereka yang bahagia, karena hidup mereka dipenuhi cinta.
Meski Nenek dan Kakek berbeda karakter, tapi mereka saling melengkapi dan mengisi. Nenek miliki pribadi tegas hasil didikan sekolah Belanda. Kakek sangat sabar dan lembut hati hasil didikan sekolah Guru Jawa Van Lith di Muntilan. Kombinasi pasangan hidup yang serasi dengan aura kasih yang meneduhkan jiwa.
Masih kental dalam ingatan ini, cerita Kakek tentang dongeng Pak Talempik dan Si Kancil yang menjadi ritual pengantar tidur. Juga suara mesin jahit Nenek yang membuatkan baju monyet untuk kami, cucu-cucunya.
Ketika Kakek didiagnosa sakit kanker, ia harus dirawat di Surabaya. Sehingga jauh dari kota Tulung Agung, rumah mereka. Nenek dengan setia menemani Kakek dalam perawatan.
Suatu siang kabar duka yang sangat mengangetkan datang.
Nenek tiba-tiba jatuh sakit, ketika menemani Kakek dalam perawatan dan meninggal.
Selang sebulan kemudian Kakek juga berpulang setelah sebelumnya terdengar ngobrol dengan seorang putranya, dan bertanya:
“Kira-kira apa yang sedang dilakukan Ibumu saat ini, ya…?”
Hatinya seakan meluap oleh kerinduan untuk kembali bersatu dengan pasangam hidupnya dalam keabadian.
Sampai sekarang saya sering mereka-reka, “Apa sesungguhnya kunci keteduhan perjumpaan pasangan hidup itu? Apakah nyala api cinta itu terus terjaga?”
Rumah dan harta itu jelas tidak mungkin, karena sampai akhir hayat, Nenek dan Kakek menyewa sebuah rumah tua untuk tempat berteduh.
Realitasnya, di tengah perjumpaan pasangan hidup yang kerap menjadikan perbedaan sebagai sarana kritik, sumber kekecewaan, atau konflik. Bahkan tidak sedikit yang berakhir tragis, untuk berpisah atau cerai.
Berbeda dengan kehidupan Nenek dan Kakek yang menghadirkan sukacita dalam menyikapi keunikan masing-masing pribadi, untuk saling percaya, meneguhkan, dan mengasihi. Sehingga Nenek dan Kakek berhasil menuntaskan janji setia mereka, sehidup semati dalam ikatan Sakramen Pernikahan Suci.
Entah apa resep hidup bahagia mereka. Tapi dalam kesederhanaan itu mereka saling mengasihi, mengisi hati dengan kerinduan, mau merawat satu sama lain, dan hadir menjadi teman penolong seperjalanan hingga menuju ke keabadian.
Sesungguhnya, apa warisan yang terbaik untuk ditinggalkan pada anak cucu?
“Kenangan indah untuk merajut kasih dalam kebersamaan hidup berkeluarga.”
Sederhana, tapi mengungkapkan hakikat kedalaman cinta untuk saling mengasihi satu dengan yang lain.
Nasihat bijak yang harus dihidupi dalam ikatan kebersamaan untuk membina keluarga yang damai sejahtera dan bahagia.
Semoga kami mampu meneladani hidup Nenek dan Kakek yang dilandasi kasih sayang.
…
Herry Wibowo

