Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Sang Pengkhianat, oh, sang Pengkhianat! Dia dapat berada kapan dan di mana saja. Dia sangat nyaman di sisi kita. Mungkin, dia itu sahabat paling akrab dengan Anda. Atau, malah dia itu istri atau suami tersayang, atau juga dia itu seorang anak kesayangan Anda. Bahkan bisa jadi, Anda sendiri yang pengkhianat kelas kakap itu.
Sungguh miris dan duka mendalam, jika suatu saat, kita justru dikhianati oleh sahabat karib atau orang kepercayaan sendiri.
Sejarah hidup umat manusia telah membuktikannya. Dalam sejarah Romawi, ada kisah pengkhianatan yang dilakukan oleh sahabat terbaik, bahkan si anak angkat, Brutus, Marcus Junius, senator Romawi, 15/3/44 SM yang telah menikam Kaisar Julius Caesar. Dengan mata pisau berlumuran darah Julius Caesar memandang kepada Brutus dan berkata, “Et tu Brute” Engkau juga Brutus!
Dalam Alkitab juga ada kisah pengkhianatan sang murid (Yudas Iskariot), kepada sang guru, Yesus Kristus. “Dengan ciumankah, engkau menyerahkan Aku?”
Sungguh, sang pengkhianat dan tindakan pengkhianatannya itu tidak pernah mati di atas bumi. Dia akan tetap hidup dan bahkan berada bersama dalam keseharian kita. Jejak pedih yang ditinggalkan juga seolah tidak sirna dari hati sang anak manusia. Ada luka-luka batin tak berdarah.
Dari mana datangnya bibit-bibit culas pengkhianat itu dan mengapa selalu ada sang pengkhianat di sekeliling kita?
Sering kali, bibit pengkhianatan itu dipengaruhi oleh kepahitan, sakit hati atau rasa kecewa. Justru, biasanya datang dari orang-orang yang dekat dengan kita.
Sadis dan miris, itulah ngerinya luka-luka sobekan berdarah yang ditinggalkan oleh kuku-kuku culas sang pengkhianat.
Apa yang akan dan perlu kita lakukan? Ya, teruslah belajar untuk selalu bersikap rendah hati, berlaku tulus, dan jujur. Karena sejatinya, bibit-bibit pengkhianat itu, ada juga di dalam hati kita. Dia laksana seekor harimau tidur yang dapat bangun dan akan mencabik-cabik siapa pun.
…
Kediri, 8 September 2023

