Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya diam. Namun semakin keras dia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!”
(Luk 18: 39)
…
| Red-Joss.com | Jika ada orang sedang berjuang untuk mengatasi penderitaannya, kita jangan menambahi lebih menderita lagi. Baik lewat kata-kata, sikap, maupun tindakan kita. Lebih bijak, kita bersikap baik kepada mereka yang sedang menderita itu.
Bisa jadi penderitaan yang dialami oleh mereka sudah bertahun-tahun. Tapi Tuhan mempertemukan dia dengan orang yang baik dalam waktu sekejap. Di saat orang baik itu sedang lewat. Waktu baik dan istimewa itu yang didapatkannya. Karena ia berjumpa dengan Sang Penyembuh.
Hal itu yang dialami oleh seorang pengemis buta di pintu gerbang Yeriko. Perjumpaan yang sangat istimewa antara si pengemis dan Yesus.
Di sekitar kita, hal itu bisa terjadi, karena ada pribadi-pribadi yang datang secara istimewa. Bisa jadi pula saat kita sedang bergumul dengan masalah dan berbeban berat.
Tiba-tiba, entah bagaimana Sang Penyembuh atau Sang Penghibur itu datang. Kita diperlakukan istimewa dan mendapatkan yang istimewa pula. Penderitaan yang kita pendam selama bertahun-tahun itu disembuhkan oleh Sang Penyembuh.
Bagaimana dengan mereka yang suka menambah penderitaan dan tidak peka itu? Jawabnya, tidak usah didengarkan. Tapi kita tetap fokus kepada kebaikan-kebaikan yang ada dalam hidup ini. Kita tidak boleh kehilangan kesempatan itu. Ketika hari yang istimewa itu datang.
“Anak Daud, kasihanilah aku!” (Luk 18: 39).
Kita juga harus peka merasakan penderitaan mereka yang ada di lingkungan sekitar, supaya hati ini terhubung. Terkoneksi. Kita menjadi sang penyembuh atau sang penghibur itu.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

