| Red-Joss.com | Sebelum kita melepaskan yang dipunyai, tentu semua itu telah dipikirkan secara seksama. Yang kita pikirkan adalah efek dari proses untuk melepaskan itu.
Pertama: kita kehilangan.
Kedua: berjuang lagi untuk hal yang baru.
Ketiga: siap untuk sebuah petualangan. Pada dasarnya, harus ada perubahan dalam hidup kita.
Sesungguhnya yang dilepaskan itu adalah hal-hal yang berkualitas, kenangan yang baik, dan kisah yang mengesankan. Hal ini dimaksudkan agar sesuatu yang dilepaskan itu jadi kisah menarik dan menginspirasi. Mungkin saat ini belum tampak nyata, tapi waktu yang memberikan kepastiannya.
Yang berani melepaskan itu tidak hanya dirimu, dia, atau kita. Tapi kita semua. Banyak orang yang berani melakukannya. Bukan karena bosan, tidak! Hal ini murni, karena didasari oleh motivasi yang kuat untuk berubah. Baik dalam pikiran, hati, dan jiwanya.
Motivasi itu bergerak agar kita terus benahi diri untuk berubah. Yang berubah itu bukan sebuah keyakinan atau iman. Melainkan cara hidupnya, sikapnya tentang hidup di dunia, dan kesadarannya dalam mengkomunikasikan hidupnya dengan yang terjadi di tengah dunia. Sehingga terasa sekali, sekarang dunia jadi asing, dan itulah yang selalu dipikirkan, mengapa dunia menjadi seperti ini? Pertanyaan yang tidak mudah dijawab dan diurai seorang diri.
Yang utama dan penting, ketika kita berani untuk melepaskan, kita harus yakin, bahwa jalan yang dipilih itu harus lebih berkualitas.
Jika optimistis, apa yang dipilih sekarang ini bisa mempengaruhi orang lain. Sehingga secara alami menciptakan sebuah pergerakkan, yaitu ada yang berani untuk melepaskan dan berani berubah. Sebab, pribadi yang tidak berani berubah itu hanya ‘menunggu waktu’. Katanya, hidup yang nikmat itu, karena bisa disyukuri. Tapi sayang, hidup yang dijalani tidak “hidup dan dinamis”. Hidup hanya dimulai di pagi hari dan ditutup pada malam hari, begitu seterusnya. Kita seperti menunggu keputusan Sang Ilahi.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

