Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.”
(Roma 12 : 12)
…
| Red-Joss.com | Hidup kita sering dihadang hambatan dan aneka tantangan. Sungguh, hidup ini tidak luput dari terpaan aneka badai.
Dari zaman ke zaman manusia dihadang badai kehidupan.
Saya pun teringat akan kisah pengembaraan umat Israel selama di padang gurun. Sungguh mengerikan aneka hambatan dan tantangan yang mereka hadapi. Ziarah di gurun yang dihiasi antara harapan, kecemasan, dan putus asa.
Kondisi riil itu, telah membentuk suatu kesadaran atau pun suatu budaya berpikir baru di dalam diri manusia dari segala bangsa. Sehingga Bangsa Barat mengandaikan badai hidup itu, laksana “lilin di tengah badai.” Bangsa Timur mengandaikannya sebagai, “kapal yang diterjang badai.” Namun, apa kata Alkitab? “Kamu, laksana domba di tengah serigala.” Inilah sebuah deskripsi hidup di atas dunia!
Bahkan Santo Agustinus berkata, “Tuhan, hatiku tidak tenang, sebelum aku beristirahat di dalam Engkau!” Terbetik suatu kerinduan dan kehausan di dalam sanubari sang manusia untuk bersatu dengan Tuhan.
Badai hidup! Sungguh, Tuhan tidak membiarkan kita berjalan seorang diri. Dia setia menyertai kita. Potret riil dari kisah pengembaraan umat terpilih di padang gurun, justru telah menjadi model kesetiaan serta penyertaan Tuhan.
Pertolongan kita dalam nama Tuhan, yang menciptakan langit dan bumi. Yesus juga telah mengalahkan dosa dan kematian. Bahkan secara sangat indah dilukiskan, bahwa “Tuhan tidak pernah mengantuk dan tertidur. Dia setia menjaga nyawa kita.โ
Sejatinya kita juga diajak untuk bertekun di dalam doa dan pengharapan dalam menghadapi badai kehidupan itu.
Ternyata, Tuhan telah memberi air dari padas saat kita kehausan. Butiran mana dari langit, saat kita dihadang paceklik. Serta darah dan air suci dari lambung Kudus-Nya, saat kita dihadang badai dosa.
Tuhanlah benteng dan gunung batu kita, maka kita tidak perlu takut!
…
Kediri, 6ย Septemberย 2023

