| Red-Joss.com | Ada anggapan, apabila masih ada seorang yang berdoa di dalam suatu keluarga, betapapun dahsyatnya gelombang hidup yang menerpa, maka rumah itu tetap akan selamat.
Alkisah di sebuah kota kecil di Jawa Timur, hiduplah seorang Kiai Sepuh, demikian orang-orang memanggil namanya. Ia adalah pemilik sebuah pesantren yang amat dihormati. Tamu yang berdatangan untuk meminta nasihatnya tak kunjung habis setiap hari.
Beliau mempunyai seorang anak laki-laki, yang menurut cerita orang mencoreng wajah sang Ayah.
Anak itu sering kali menjual nama Ayahnya untuk meminta, atau meminjam uang kepada banyak orang.
Tidak sekali dua, beberapa sahabat dekat Kiai itu memberanikan diri untuk memberitahukan hal yang merusak nama baik Kiai dan citra pesantren.
Sang Kiai tersenyum dan berkata lembut kepada para sahabatnya yang menyampaikan pengaduan itu.
“Memang itulah jalan yang harus dilalui anakku oleh pilihan yang diambilnya. Sabarlah, ia sedang belajar tentang kehidupan.”
“Orang-orang mungkin lebih senang memilih untuk membicarakan anakku. Bahkan sesegera mungkin menendang ia ke luar dari kehidupan mereka agar tidak terganggu, atau ada yang memilih untuk terus mencacinya.”
“Sebagai seorang Ayah, aku percaya akan datang saat pemulihan itu. Maka kupilih untuk terus memohonkan segala pengharapan yang terbaik itu untuk keselamatannya.”
Waktu terus bergulir. Kiai Sepuh itu pun wafat.
Terdengar kabar, bahwa anaknya sekarang yang memimpin pesantren itu dengan baik. Ia amat dihormati seperti Ayahnya.
Mendengar cerita itu, seketika terbayang wajah orang-orang terkasih yang Tuhan hadirkan dalam hidup ini. Saya terbayang
wajah istri, anak, Bapak Ibu, mertua, dan saudaraku yang lain.
Rasanya amat membahagiakan, jika memiliki pengharapan seperti Kiai Sepuh itu. Pengharapan yang tidak pernah meredup untuk memohon segala yang terbaik bagi kehidupan orang-orang terkasih yang Tuhan hadirkan dalam kehidupan. Bahkan saat dalam kegelapan yang seakan tidak menyisakan harapan.
Maka dengan lirih saya bisikkan kerinduan ini:
“Tuhan, segala yang terbaik, kesembuhan, pemulihan, damai sejahtera, dan segala yang terindah seturut besarnya kasih-Mu.
“Semoga mereka yang saya kasihi, Engkau limpahi damai sejahtera dan bahagia. Saya sungguh percaya, bahwa segala pengharapan yang aku panjatkan ke hadirat-Mu itu, juga menjadi pengharapan-Mu.”
…
Herry Wibowo

