| Red-Joss.com | Setiap bulan sekali di rumah kami kedatangan beberapa sahabat Bapak. Seharian mereka asyik berbincang bersama seorang Guru yang biasa kami panggil Pak Puh (Bapak Sepuh). Meskipun nama lengkapnya Sumarto Gondowiyoto.
Kadang Bapak bercerita yang diobrolkan dengan sahabatnya itu. Kadang pula saya diminta untuk melakukan sesuatu.
Sebagai anak kecil, saya tidak dapat sepenuhnya mengerti yang Bapak ceritakan maupun tujuan dari ajakannya itu.
Suatu malam, Bapak meminta saya untuk melafalkan nama Allah, hingga saya tertidur. Bapak hanya tersenyum, ketika ditanya maksud dan tujuannya itu.
Setelah seminggu lebih, Bapak minta pada saya untuk mengganti lafal Allah dengan kata lain, seperti:
marah, benci, kata kotor, atau sumpah serapah yang mungkin ingin saya lampiaskan.
Saya lalu diminta merasakan perubahan hati ini pada keesokan harinya saat saya membuka mata.
Ketika mendengar itu, dan sekadar membayangkannya, saya dapat merasakan suasana hati ini yang akan mengiringi tidur malamku dengan kata makian dan sumpah serapah.
Ketika bangun pagi, saya dapati kutipan pendek dari sebuah bacaan buku suci, lalu kubaca perlahan.
Ajakan Bapak itu sederhana, tapi mampu menyentak hati dan menggugah kesadaran saya.
… Ketika menyadari, bahwa saatnya sudah dekat untuk berpulang, Guru Agung itu pergi menyendiri. Ia lalu berdoa kepada Allah bagi murid-murid yang akan ditinggalkannya.
“Selama Aku di dunia ini, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, ya, Allah.
Sebentar lagi Aku akan kembali kepada-Mu dan tidak lagi bersama mereka. Maka peliharalah mereka dalam nama-Mu yang telah kuperkenalkan kepada mereka.”
Membaca kisah itu, saya baru memahami makna dan ajakan Bapak menyebut nama Allah untuk mengiringi istirahat malam. Bapak tahu, bahwa selama hidup ia akan sekuat tenaga memelihara aku dan orang-orang yang dicintainya. Tapi Bapak sadar, bahwa suatu saat ia akan kembali kepada Allah. Ia hendak meninggalkan warisan nama Allah dalam hidup kami.
Nama Allah yang saat disebut, diyakini dan dipercayai Bapak akan memelihara hidup saya, anak yang sungguh ia kasihi, bahkan setelah kepergiannya.
…
Herry Wibowo

