“Kamu adalah putra putri kepunyaan Allah. Kau semua adalah kecintaan hati-Nya.”
…
| Red-Josd.com | Itulah salam pembuka Fr. Henry Nouwen seorang Profesor dari Harvard dalam ‘youtube’ yang berjudul ‘Being the Beloved’.
Youtube itu sangat menarik perhatianku, di mana profesor itu memilih untuk menghabiskan waktunya untuk tinggal di komunitas para penyandang cacat di La Arche Canada.
Youtube itu juga menyentak kembali kesadaranku yang telah lama hilang, di mana arti keberadaan hidupku dalam rentang waktu peziarahan di dunia ini.
Siapa diriku ini sesungguhnya?
Pertanyaan sederhana yang pernah kudengar, tapi tidak pernah tuntas terjawab. Permenungan yang ingin kucari jawabannya agar hidup ini makin bermakna.
Sesungguhnya, apa yang kita kerjakan semua itu? Apa yang kita miliki dalam hidup ini? Ataukah hidup ini sungguh hanya sekadar sanjungan atau penolakan?
“Bukan!” tegas Henry Nouwen.
Jika hidup ini sekadar yang kita kerjakan, miliki, atau cerita yang dikatakan tentang kita. Tapi hidup ini gelombang yang kadang naik, turun, atau tenang melandai.
Lihat semua trophy dan piala itu. Lihat anak-anak dan semua hasil pekerjaan itu. Itulah yang akan kita ceritakan, ketika kesepian di tengah perasaan ketidak-berhargaan hidup ini? Karena kita merasa tidak mampu melakukan sesuatu lagi? Jika harta adalah cerita tentang hidup ini maka kita akan merasakan ketidak-berhargaan hidup itu, ketika kita kehilangan semua itu. Ketika pujian adalah gambaran tentang keberhasilan ini, maka penolakan bahkan yang paling kecil sekalipun akan membuat kita terluka dan merasa gagal.
“Bukan, semua itu bukan hidup kita!” Frater Henry menegaskan.
Kita adalah putra-putri Allah yang Mahatinggi. Kita ini kecintaan-Nya dan kita dicintai bagai biji mata. Itulah suara cinta pertama yang kita terima, bahkan sejak awal ketika Allah merajut kita dalam kandungan Ibu. Itulah diri kita yang sesungguhnya.
Biarlah gaung cinta Allah itu selalu menggema dan menjadi cerita sejati tentang kita. Izinkan cinta itu
jadi aroma perjumpaan kita dengan setiap pribadi yang hadir dalam setiap tapakan hidup ini.
Tiba-tiba saya teringat akan sebuah lagu yang kerap kudengar di masa kecil:
I will never forget you my people
I have carved you on the palm of My hand
I will never forget you , I will not leave you orphan.
I will never forget my own.
…
Herry Wibowo

