“Iso ngapuro sakabehing sisip. Lamun tumanduk ngucap lan tumindak dipikir dhisik sing jero, sing lerege kudu tansah marang kautaman.”
| Red-Joss,com | Bisa memaafkan segala kesalahan.
Dalam tingkah laku dan tindakan maupun ucapan hendaklah dipertimbangkan dengan seksama, semoga hal itu selalu mengarah pada kebaikan.
Pagi ini ingatanku melayang pada saat obrolan dengan Bapak tentang arti keutamaan ‘sabar’ puluhan tahun silam, ketika kami masih tinggal bersama.
Kata Bapak, “jika kau tekun di dalam kesabaran, maka kau akan mampu untuk menghidupi arti keutamaan yang lain (eling, narimo, welas, asih, ikhlas, percaya).”
Dalam tiap obrolan, Bapak sering menyelipkan wejangan kepada anak-anaknya, khususnya tentang
7 nilai keutamaan (sapto silo) yang hendaknya dihidupi sebagai pijakan perjalanan hidup ini.
Sabar itu tempatnya di ‘nafas hadi’.
Latihannya, cara melihatnya di ‘pangucap’ (dalam ucapan). Alamnya: surga. Pembuktiannya, ‘jumbuh lahir lan batin’ (selaras antara pikiran, perkataan dan perbuatan yang senantiasa baik).
Kami, anak-anaknya diajak melihat, memperhatikan, dan belajar untuk menghidupi keutamaan ini. Ketika tergoda untuk jatuh dalam kemarahan, maka kami diminta menarik nafas agar sadar diri. Nafas itu rahmat kehidupan dan tanda kehadiran Tuhan. Nafas yang dihembuskan Tuhan itu memberi kehidupan. Dengan menyadari kehadiran Tuhan agar batal marah. Sehingga, ketika kami tergoda jatuh dalam kemarahan dan enggan untuk mengampuni agar kami ingat rahmat Tuhan lewat hembusan nafas-Nya. Sehingga kami mampu mengambil tindakan yang baik dan benar.
Lihatlah ucapan yang ke luar dari mulut, karena mulut adalah pintu untuk melihat pribadi yang sabar dan luhur sebagai cerminan hati. Jika kita menghidupi keutamaan ini, maka seperti kita mencicipi alam kehidupan surga. Hidup yang dilimpahi suka cita dan damai.
Segala yang diucapkan dan dipikirkan itu harus selaras dengan perilaku yang baik. Sekaligus cerminan pribadi yang luhur dan sabar.
Sesungguhnya, dengan mengingat kembali obrolan bersama almarhum Bapak, hati ini jadi tenang, tentram, dan damai.
Sesungguhnya, saya juga malu, meski telah puluhan tahun belajar menghidupi keutamaan itu. Tapi saya sangat jauh dari kata bisa.
Ketika hati ini kesal, marah, tidak sabar, atau sulit mengampuni mereka yang bersalah, aku ingin nasihat Bapak. Untuk terus belajar, bertekun, dan berdoa hingga saat itu tiba. Tuhan datang memberikan rahmat-Nya dan memampukan aku untuk sabar, tabah, dan teruji.
Tugasku adalah terus belajar.
…
Herry Wibowo

