Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sejak awal mula, Tuhan telah menulis dan mengirimkan sepucuk surat cinta kepadamu!”
..
| Red-Joss.com | Hidup dan mati kita, ada di dalam genggaman kehendak tangan kasih Tuhan. Apa pun yang bakal terjadi, kita ini tetap milik Tuhan. Kita telah dicap dengan meterai kekal.
Kita, manusia bagaikan sepucuk surat cinta dari tangan Tuhan. Kita pun diciptakan sesuai rencana dan kehendak-Nya.
Di dalam surat cinta itu, Dia merencanakan apa pun yang terbaik untuk kita. Bahkan, Dia pun telah menenun buah pinggang kita sedari rahim Ibu kita. Nama dan hari depan kita, bahkan tertulis di atas telapak tangan-Nya. Sungguh, betapa kita ini dicintai-Nya dengan cinta yang kekal.
Layaknya sebuah surat cinta, tentu surat itu berisi kata-kata bernafas cinta, disertai harapan dan doa-doa cinta. Kemudian, dengan tangan-Nya pula, surat itu pun dilipat rapi dan dimasukan ke dalam sebuah amplop dan dikirimkan kepada kita.
Apa tanggapan kita dengan surat cinta Tuhan? Bersyukur dan memuji? Berdoa disertai harapan? Ataukah kita tidak peduli, karena kita tidak pernah menyadarinya?
Terlepas dari semuanya itu, yakinlah, bahwa Tuhan tidak pernah menarik kembali isinya. Semua yang telah tertuang di atas sehelai daun kertas putih itu akan tinggal menetap hingga kekal. Karena cinta Tuhan adalah cinta abadi. Bukankah sang murid tercinta pun pernah berkata, Gusti Allah adalah Cinta. “Deus Caritas Est!”
Kelak saat kita dipanggil pulang, kita juga akan berhadapan wajah dengan-Nya.
Adakah Tuhan akan tersenyum memandangi kita? Ataukah Dia justru memalingkan wajah Agung-Nya dari hadapan kita?
Kita tidak tahu apa pun yang bakal terjadi. Kini, tugas kita adalah menyiapkan diri untuk menyongsong kedatangan-Nya kembali.
…
Kediri,ย 31ย Agustusย 2023

