| Red-Joss.com | Seorang Ibu curhat kepada saya. Ia mengadukan anak lelakinya yang berubah drastis sejak kenal dengan seorang gadis.
“Anak saya seperti diguna-gunai. Ia selalu menuruti permintaan gadis itu. Ia mulai tidak jujur, dan pandai bersandiwara,” cerocos Ibu N lewat WA.
Diguna-gunai? Saya tidak langsung mengiyakan, apalagi mempercayai hal itu.
Bisa jadi Ibu yang orangtua tunggal itu ketakutan. Karena banyak waktu anak lelakinya yang tersita untuk gadis itu.
Entah karena apa, saya jadi ingat pengalaman sebagian teman yang salah kaprah. Bahwa anak adalah aset berharga orangtuanya. Kelak mereka itu yang ganti mengopeni orangtua.
Konyolnya, ada orangtua dengan enteng meminta jatah kepada anak-anaknya yang telah bekerja demi menopang hidupnya.
Ada juga orangtua yang membuat saya salut dan respek. Mereka adalah orangtua yang tidak mau merecoki anak-anaknya. Bahkan, jika bisa dan mampu mereka ingin tetap memberi kepada anak-cucunya.
“Saya selalu ingatkan anak, jika mereka melenceng atau jalannya salah. Tapi keputusan itu tetap pada anak. Saya menjauhi konflik, perselisihan, dan tidak mau memaksakan kehendak pada anak. Mereka bisa memilih dan memilah untuk berpikir baik buruknya. Orangtua hanya mendoakan demi kebaikan dan kebahagiaan anak,” kata YN yang akhirnya merestui anaknya menikah dengan laki-laki yang tidak disetujui oleh istrinya. Alasan YN sederhana, bagaimana perasaan orangtua, jika anaknya juga tidak disayangi oleh mertuanya?
Sebagai orangtua semestinya kita bijak dalam menyikapi perubahan anak. Berjiwa besar untuk ‘tut wuri handayani’.
Sesungguhnya takut ditinggalkan, kecewa, dan banyak ketakutan lainnya itu datang dari pikiran. Karena kita tidak berani menerima kenyataan pahit dan perubahan anak.
Faktanya, banyak orangtua yang sibuk diri sendiri. Sehingga mereka membuang kesempatan baik untuk mendampingi tumbuh kembang anaknya sedari kecil menuju dewasa. Mereka kaget dan tidak siap menghadapi perubahan anak-anaknya.
“Selalu dibawa dalam doa, karena kita akan menemukan jawaban dari persoalan itu. Sebagai orangtua, kita jangan egois. Kita percaya, bahwa Allah selalu memberi yang terbaik untuk kita,” tandas YN.
Jika kita sungguh menyayangi anak, kita jangan bosan untuk mengingatkan anak dengan kasih, mendoakan dengan harapan, dan mempercayakan mereka pada penyelenggaraan Tuhan penuh iman. Karena rancangan kita bukan rancangan-Nya, tapi selalu indah pada waktunya.
Semoga hati Ibu N dibukakan Allah, dan pikirannya dicerahkan. Kasih itu lemah lembut, sabar, dan dahsyat kuasa-Nya.
…
Mas Redjo

