RedJoss.com – Buanglah sampah pada tempatnya itu mendidik kedisiplinan. Pilah sampah untuk diolah kembali, itu langkah cerdas agar kita mengolah sampah menjadi berkah.
Jangan dibayangkan, apalagi menutup hidung. Di manapun sampah itu kotor, menjijikkan, dan bau. Tapi, dari sampah yang kotor dan bau itu tersembunyi nilai keekonomian yang tinggi, jika kita jeli memanfaatkannya.
Kenyataannya, selama ini kita abai, masa bodoh, tak peduli, bahkan minim kesadaran untuk membuang sampah pada tempat yang telah ditentukan.
Coba lihat sampah itu berserakan di jalan-jalan. Dari lingkungan pasar, terminal, perumahan, sungai, hingga sampai ke laut dipenuhi sampah. Selain menimbulkan kesan kumuh dan bau tak sedap, sampah juga mencemari lingkungan. Alangkah bijak, jika sampah itu diolah agar bermanfaat bagi kehidupan.
Saatnya kita bergerak bersama untuk lebih peduli akan arti dan pentingnya kebersihan lingkungan, dimulai dari keluarga kita sendiri. Karena kebersihan itu bagian dari iman.
Pilah, pilih, dan pisah sampah rumah tangga yang kering dan basah untuk dikelompokkan. Sampah basah dari sisa makanan, sayuran, dan kulit buah. Sampah kering dari plastik kemasan, kertas, dan seterusnya.
Apakah kita tahu atau mendengar, bahwa dari kulit buah dan sayuran itu dapat difermentasikan menjadi eco enzym yang multi manfaat, atau pupuk cair? Lalu, kemasan plastik untuk didaur ulang sebagai bahan kerajinan tangan, produk plastik injeksi, hingga bahan pengeras jalan? Apakah kita juga tahu, bahwa Indonesia termasuk pembuang limbah plastik dan makanan terbesar di dunia?
Dalam webinar (12/3/2021), menurut Dodik Ridho Nurrochmat, yang akademisi IPB itu, Indonesia merupakan negara pembuang sampah makanan terbesar di dunia,
yakni 5.000 ton perhari.
Sedang sampah plastik, menurut INAPLAS (Asosiasi Industri Plastik Indonesia) dan BPS (Badan Pusat Statistik), mencapai 64 juta ton/tahun. Sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.
Tidak cukup merasa prihatin dan miris akibat yang timbul dari pencemaran limbah sampah itu, tapi yang pertama dan penting adalah kita mencari terobosan yang tepat guna untuk mengatasinya.
Prioritas yang utama dan pertama adalah mengedukasi masyarakat akan bahaya akibat membuang sampah sembarangan, seperti banjir, pencemaran lingkungan, dan seterusnya.
Dengan mengedukasi secara kontinyu, diharapkan masyarakat sadar diri, peduli, dan tergerak untuk mengolah sampah rumah tangga untuk kerajinan tangan, pupuk cair, hingga sebagai tenaga pembangkit listrik. Lebih dahsyat lagi, jika di setiap kelurahan terdapat bank sampah untuk menampung limbah plastik dari warganya dan ‘koperasi kerajinan’ yang memasarkan produk buah tangan masyarakat.
Peluang emas yang layak direbut, diperjuangkan, dan ditekuni. Karena dari sektor sampah rumah tangga itu kita mampu mengubah perekonomian masyarakat dan mengubah wajah perkampungan tertata rapi dan indah.
Sekarang, saatnya kita bergerak bersama membangun ekonomi masyarakat yang kuat dan mandiri.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

