| Red-Joss.com | Ketika berangkat ke kantor dengan ojek tampak terlihat sesosok tubuh tergeletak di pinggir trotoar jalan baru Cipinang Indah, Jakarta Timur. Orang yang tergeletak itu seperti korban tabrak lari.
Kukeraskan hati untuk terus melanjutkan perjalanan ke kantor. Terbayang olehku, jika aku berhenti untuk menolongnya, tentu repot sekali!
Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak keruan. Apalagi aku barusan menshare ke beberapa grup WA tentang artikel ‘matinya cinta di China’. Artikel itu mengulas keprihatinan pemerintah China, karena rendahnya kepedulian masyarakat setelah tersebar tayangan rekaman CCTV, di mana ada seorang gadis kecil yang tergeletak di pinggir jalan tertabrak truk tanpa ada yang mau menolong.
Begitu pula korban yang kulihat tadi dibiarkan tergeletak tanpa ada orang yang tergerak hatinya untuk menolong!
Tidak harus pergi jauh ke China untuk melihat korban yang ditelantarkan, karena orang yang hilang rasa peduli dan empati, pikirku. Bisa jadi, cinta di hatiku juga seperti sudah mati atau mau kumatikan.
Aku mencari polisi yang bertugas di sekitaran itu. Aku katakan tentang orang yang tergeletak, karena tabrak lari.
Ternyata korban itu adalah seorang Ibu yang lukanya cukup parah. Ia
merintih kesakitan, ketika kami menolongnya.
Setelah meyakinkan polisi, bahwa aku akan mengurus pengobatan Ibu itu, maka dengan menggunakan mobil polisi korban itu dibawa ke UGD rumah sakit terdekat.
Dokter jaga itu menolak untuk merawat, karena menganggap korban itu seorang gelandangan.
Meskipun aku terus membujuk untuk mengurus biaya perawatan Ibu itu, ia tetap menolak dan mengatakan repot berurusan dengan orang gelandangan.
Beruntung dan bersyukur, karena
dokter jaga berikutnya lebih ramah dan mau mengurusnya. Kulihat ia lalu mengobati luka-luka Ibu itu dengan telaten.
“Tuhan , Engkau gerakkan hatiku untuk menolong Ibu itu. Aku percaya Engkau juga akan memberi jalan ke luar biayanya,” doaku lirih, karena sadar aku tidak mempunyai banyak uang di dompet.
Aku spontan melirik cincin kawin yang ada di jari. Apabila yang terburuk itu terjadi, maka aku akan menggadaikannya. Perlahan, hatiku menjadi lega dan tenang.
Aku lalu menelepon adikku untuk meminta bantuan. Kujelakan kronologinya. Meski adikku terkesan kecewa, karena kurepoti, tapi ia tetap mengirimkan uang sejuta rupiah ke rekeningku. Bahkan jika biaya pengobatan itu kurang, ia akan menambahi lagi.
Biaya seluruh pengobatan Ibu itu 950 ribu dan sisanya kubelikan buah sebagai ungkapan rasa terima kasihku pada dokter yang bertugas. Sehingga ludeslah
uang 1 juta kiriman adikku itu.
Sesampai di kantor menjelang waktu makan siang, aku mampir ke kamar bos untuk meminta maaf atas keterlambatanku, dan menceritakan kejadian itu.
Tidak disangka, beliau membuka dompet dan mengulurkan 5 lembar uang ratusan ribu padaku.
“Kita paruhan ya,” kata bos sambil tersenyum.
Aku terperangah, tapi uang itu kuterima, sambil mengucapkan terima kasih.
Aku mengucap syukur atas rezeki-Nya.
“Semoga kemurahan hati adikku dan kebaikan bos, biarlah Tuhan yang menggantinya berlipat-lipat,” doaku. Tak terasa mataku berkaca-kaca, karena terharu dan bahagia.
…
Herry Wibowo

