| Red-Joss.com | Andaikata pada saat ini kita, bertemu dengan Tuhan, dan Dia bertanya: Bagimu, siapakah Aku? Kira-kira apa, ya, jawaban kita?
Mungkin jawaban kita sama seperti dulu, ketika para murid menjawab pertanyaan Yesus. Katanya, Tuhan itu Pencipta langit dan bumi. Kata Pastor, Tuhan itu Bapa kita. Kata suster, Tuhan itu Ibu kita. Guru agama saya bilang, Tuhan itu Penyelamatku, dan sebagainya.
Jawaban-jawaban itu tidak salah, tapi tidak cukup. Yesus meminta jawaban pribadi kita. Jawaban yang berasal dari hati, yang berakar pada penghayatan pengalaman pribadi ini. Yakni Tuhan yang selama ini kita hayati. Mengapa?
Sebab, ketika kita membutuhkan Tuhan di hidup kita, Tuhan yang menurut kata orang itu tidak berguna. Tuhan demikian tidak dapat kita andalkan, bahkan tidak berarti. Tuhan kata orang itu hanya akan jadi pengetahuan belaka. Yang dapat jadi pegangan dan andalan kita, hanyalah Tuhan yang hadir, yang hidup dalam penghayatan pribadi kita.
Contoh: Saat kita merasa gagal, atau saat kita hilang harapan, kita tidak dapat berpegangan pada Tuhan Pencipta langit dan bumi. Sebab tidak ada kaitannya antara gagal/hilang harapan dengan Pencipta langit dan bumi. Kita juga tidak dapat memakai Tuhan Penyelamatku.
Lantas dalam kasus gagal/hilang harapan, sepertinya akan membantu, bila “Tuhan adalah Harapanku. Dengan begitu kegagalanku itu ada makna di hidupku. Tuhan Harapanku, nyambung dengan pengalaman kegagalan hidupku.”
Contoh lain: Ahok ‘sharing’, siapa Tuhan baginya, ketika dia difitnah, dipermalukan, dianiaya lahir dan batinnya dan diperlakukan tidak adil bahkan dipenjarakan. Ahok yakin, bahwa ‘Gusti ora Saré’. Sehingga Ahok mengatakan: Tuhan melihat dan akan membalas dengan mempermalukan siapa pun yang menzolimi Tuhan. Keyakinannya akan Tuhan yang ‘ora sare’ itu cukup buat Ahok untuk membuatnya siap diadili dan di penjara.
Itulah sebabnya Tuhan, Yesus setiap kali bertanya lagi. “Siapa Tuhan bagiku?” Kita perlu merumuskan siapa Tuhan bagi kita masing-masing dengan rumusan yang paling dekat, paling sesuai dengan pengalaman, penghayatan kita pribadi. Apakah Tuhan mau dikatakan ‘Gusti ora sare, Sahabat paling setia, Kekasih hati yang paling mengerti, Penebusku, Andalanku’, monggo dan bebas dan tidak berdosa. Silahkan nyatakan atas dasar pengalaman dan penghayatan yang nyata dan konkret.
Tujuannya agar apa pun yang terjadi, kasih, iman dan harapan itu menjadi nyata di hidup kita.
“Bagiku sendiri, siapa Tuhan?”
Dia adalah Sumber Air Hidupku* yang ‘ora sare’. Di saat hidup ini mengalami kemarau, kering dan tandus, Dialah oase hidupku. Dan Air Hidup itu juga kutawarkan kepada teman, saudara dan sahabat yang sedang kemarau pikiran, hati dan hidupnya.
Salam sehat dan benar, saya juga mengalami, Tuhan itu ora sare.
…
Jlitheng

