| Red-Joss.com | “Apa yang harus kita lakukan, jika kita dikatai: kafir?”
Tidak harus reaktif menanggapi, tapi coba lihat orang yang nyinyir itu. Bisa jadi ia tidak memahami artinya.
Jadi ya, lebih baik dimaklumi. Tidak harus tersinggung, bersitegang, sakit hati, apalagi lalu bermusuhan. Lebih baik orang yang nyinyir itu dikasihani. Bisa jadi ia ikut-ikutan. Sesungguhnya ia tidak memahami ilmu agama yang dipelajari. Paham sekadar di kulitnya, tapi isinya kosong melompong.
Jika kita dilecehkan itu tidak harus merasa terhina, dihinakan, atau dikerdilkan. Lebih baik jauhi rasa ketersinggungan itu.
Agama kita dilecehkan, dan harus dibela?!
Oo, maaf! Hal itu tidak perlu. Untuk apa membela Allah yang hidup?! Bahkan kita sangat tidak pantas membela-Nya. Kita ini ciptaan-Nya, dan bisa apa?
Lalu…?
Kita dikatai kafir, seharusnya kita refleksi diri. Kita tidak beragama atau tidak mau mengikuti petunjuk Allah, lalu dikafirkan?
Sesungguhnya, kita harus malu. Juga sekaligus tersanjung. Karena kafir itu mempunyai singkatan ‘kaya akan Firman’. Apakah kita sungguh kaya akan firman Allah? Bagaimana hidup keseharian kita, apakah sesuai dengan firman-Nya?
Sebutan kafir itu yang seharusnya membuat kita semakin mawas diri dan rendah hati. Sekaligus sebagai cambuk untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita pada Allah. Sehingga kita sungguh kaya akan firman Allah yang menyata dalam sikap dan perilaku hidup keseharian kita.
Sekali lagi, jika dikatai kafir oleh orang, yang utama dan penting adalah, kita jangan tersinggung. Lebih baik kita memaafkan orang itu, karena ia tidak tahu apa yang diperbuatnya. Ia tidak memahami maknanya.
Ucapkan terima kasih kepadanya, karena kita diingatkan agar kita sungguh kaya akan firman Allah, dan makin rendah hati.
Memaafkan, ampuni, kasihi, dan rendah hati adalah kunci keimanan sejati untuk hidup bahagia.
Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

