“Less scrolling, more living.” – Rio, Scj.
| Red-Joss.com | Satu menit untuk melihat, tertawa, sedih, atau kagum. Tapi beberapa saat kemudian kita bosan atau malas. Coba ‘scrolling’, merunut ke awal. Ada tidak hal menarik yang dilewati untuk ditonton atau dibaca.
Realitas itulah yang kita jumpai dan terjadi dalam hidup ini. Keadaan kita sekarang ini. Kita membuka medsos untuk melihat video, Instagram, WhatsApp, atau yang lainnya. Tidak hanya setengah jam, tapi berjam-jam. Bahkan kita sering lupa diri, baik dengan pasangan, anak, teman, bahkan lupa makan atau tidur.
Kebiasaan dunia maya saat ini sudah terbawa di dunia nyata. Dalam keseharian hidup ini. Kita jadi lupa segala-galanya, karena dibius sosmed!
Beberapa hal yang harus disikapi secara bijak tentang sosmed:
Pertama: mudah mengganti. Yang menarik untuk dilihat dan yang tidak menarik untuk dilewati. Yang merusak hubungan dibuang, untuk diganti yang baru. Tak ada guna, karena repot memperbaiki. Lebih baik itu pilih yang praktis. Jika hal yang jelek dan rusak itu sebaiknya dibuang dan diganti. Bahkan hal itu terkadang juga terjadi dalam pertemanan. Jika hal itu membuat kecewa dan tidak mood di hati, ya, tinggalkan atau diblokir.
Urusan rumah tangga pun begitu. Banyak pasangan yang mudah ingin berpisah, putus hubungan, bahkan bercerai. Awal cinta setengah mati, tapi ada masalah sedikit cinta itu hilang, bahkan bosan. Jika rusak segera dibuang. Pasangan itu seperti barang. Boro-boro mau memperbaiki hubungan, kalau pun bertahan tidak setia lagi.
Kedua: tidak fokus. Amati di antara kita, kalau ngobrol. Mulut bicara tapi tangan dan mata ke HP. ‘Multi tasking’ itu boleh, apalagi zaman sekarang. Tapi, kalau ‘multi tasking’ bikin gagal fokus untuk apa? Kalau kita jengkel diperlakukan seperti itu, ya, kita jangan melakukan hal itu. Sebaiknya kita fokus untuk menghargai dan menghormati lawan bicara.
Ketiga: mudah bosan. Bosan memang urusan perasaan. Jika masalah mental tentu merusak masa depan. Bosan itu melahirkan malas, dan malas menghancurkan daya tahan maupun ketekunan. Inilah yang akan membuat suram masa depan. Tuhan tidak bosan dengan kita, sebaliknya kita yang sering bosan.
Mari belajar dari Sang Pencipta yang maha rahim dan murah hati. Sehingga kita akan jadi pemenang di dunia ini dan bahagia di surga.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

