| Red-Joss.com | Pengalaman adalah guru yang terbaik itu benar. Tapi belajar dari hikmah, kita menjadi bijaksana.
Sesungguhnya, peristiwa apa pun yang terjadi dalam hidup ini tidak ada yang kebetulan, ‘ndilalah’. Tapi semua ini terjadi sesuai kehendak Allah.
Sesungguhnya, dalam hidup ini kita diuji tidak untuk menjadi pribadi yang hebat, pintar, dan mumpuni. Melainkan pribadi yang rendah hati.
Sederhana, sangat sederhana. Karena yang rumit dan sulit itu datang dari pikiran dan keinginan sendiri.
Kesederhanaan, kebersahajaan, dan kerendahan hati itu yang mengajar kita untuk melihat hikmah dalam setiap peristiwa. Bahwa, sesungguhnya hidup ini berhikmat. Hidup bermakna bagi sesama.
Ketika terjadi ledakan emosi agar kita tidak menanggapi, tapi sabar hati. Karena emosi itu membakar dan menghanguskan. Tapi juga merusak jiwa dan menghancurkan hubungan persahabatan atau kekerabatan. Dengan menjadi air, kita mendinginkan hati agar hubungan tetap segar dan damai.
Ketika terjadi hinaan dan hujatan agar kita makin rendahkan diri, sehingga energi negatif itu kembali pada orang yang melepaskannya.
Ketika kita persulit dan membuat orang lain susah, sesungguhnya kita persulit dan susahkan hidup sendiri di hadapan Allah dan sesama.
Sesungguhnya, apa pun yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan pada orang lain itu tunjukkan citra, cap, atau karakter pribadi sendiri.
Sesungguhnya, hidup yang tidak direfleksikan itu tidak layak dihidupi. Kita mau menjadi apa dan mau ke mana?
Hidup adalah nilai pertanggungjawaban kita pada Allah Sang Pencipta.
Hidup itu berhikmat!
…
Mas Redjo

