| Red-Joss.com | Akhir-akhir ini medsos ramai istilah NPD: ‘narcissistic personal disorder’. Ilmu psikologi bilang ini suatu kelainan kepribadian, bukan cuma sekadar narsis. Tapi narsis yang kebangetan dan kebablasan.
Ada dua ciri NPD, pertama kebutuhan akan kekaguman yang luar biasa. Siapa sih yang tidak suka dipuji, dikagumi? Namun sayang ini keterlaluan. Pinginnya jadi pusat perhatian dan dikagumi banyak orang. Baik itu kecantikan, ketampanan, ketrampilan atau kepandaian. Maupun ekspektasi dan perestasi. Sehingga, ketika dikritik pasti langsung menyerang balik.
Seseorang itu senang, kalau merasa dibutuhkan. Apalagi dapat validasi atau pengakuan dari orang sekitar. Menjadi terpukul sekali, bila dapat hinaan, dibuly, dikomentari, apalagi dinyinyiri. Gagal dan jatuh itu pantangan, dan bila berhadapan dengan tantangan maunya sukses secara instan.
Bila terjadi konflik atau menemui kegagalan, ia pandai menyalahkan dan memutar balikan keadaan. Mencari alasan dan menyalahkan orang lain adalah sebuah pembelaan. Boro-boro mengakui kesalahan dan minta maaf, karena senangnya mencari celah untuk menyalahkan. Ia amat terlatih, dan itu keahliannya. Ia tidak terima, jika disalahkan, karena merasa benar.
Kedua, miskin empati dan tidak punya hati. Egonya tinggi. Orang lain EGP alias emang gua pikirin. Senang melihat orang lain susah, tapi susah melihat orang lain senang. Eksis di mana pun, kapan pun, dan dalam situasi apa pun.
Coba praktekkan pesan ini agar kita terhindar NPD: Bukan narsis yang bikin hidup penuh berkat, bukan narcis yang mendatangkan rejeki, bukan narcis yang membuat hidup penuh warna dan memberi inspirasi. Melainkan pribadi yang rendah hati dan mau melayani. Karenanya bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan, bersabar dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj.

