Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sejatinya Sang Tuhan pun telah ‘turun gunung’ demi menebarkan kebaikan dan kebenaran sejati.”
…
| Red-Joss.com | Turun gunung, itu sebuah idium dalam linguistik kita. Sejatinya, semula, istilah turun gunung hanya ada di dalam dunia persilatan. Artinya, seorang pendekar pada saatnya ke luar dari tempatnya berguru untuk mengamalkan ilmu yang diperolehnya, demi menebarkan kebaikan.
Saya justru terkesima, karena cukup sering mendengar frase ‘turun gunung’ ini cukup sering digunakan.
Hari ini, di dalam harian Kompas, 24/8/2023 ada tulisan berjudul, ‘Bung Karno Turun Gunung Menyemai Benih Pancasilaโ. Secara personal, saya mengonklusikan, bahwa idiom turun gunung adalah hal yang luhur dan mulia. Itulah sebuah misi kemanusiaan.
Tapi turun gunung atas nama siapa, mengapa, dan demi apa? Di dalam dunia politik pun, idiom ini tidak jarang digunakan. Semisal, “SBY pun Turun Gunung demiโฆ”
Sesungguhnya, alangkah mulia dan luhurnya makna awal dari frase turun gunung di dalam dunia ilmu persilatan. Mengapa? Di dalamnya, mengandung makna, turunnya sang pendekar atau pahlawan dari tempat/medan berguru demi mengamalkan ilmu silat yang dipelajarinya untuk membela kebenaran.
Secara rohani, sejatinya, Tuhan pun, juga telah turun gunung. Tuhan, yang telah menjelma menjadi manusia lewat proses inkarnasi.
Mengapa secara rohani Tuhan pun ternyata rela untuk turun gunung? Karena Dia telah turun dari gunung kemuliaan, takhta kerahiman atau Surga, diutus oleh Bapa demi menyelamatkan umat manusia. Maka, Sang Putera pun rela turun ke dunia.
Jadi, sudah sepantasnya, kita pun perlu turun gunung demi menebarkan ajaran kasih. Sungguh sayang, jika kita, selaku pendekar Kristus, justru hanya ngumpet dan merasa nyaman di atas menara gading.
Kita adalah para pendekar yang sudah berguru dan telah menerima kekuatan rohani dari Kristus.
“Pergilah kamu ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Markus 16: 15)
…
Kediri,ย 24ย Agustusย 2023

