Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Saya ingat untaian pernyataan berikut ini, “Malaikat dan iblis berada di balik daun pintu rumahmu sebelum kamu ke luar rumah.”
Pernyataan ini memiliki makna mendalam. Apakah manusia sadar hal itu? Ataukah justru, dia sama sekali tidak menyadarinya?
Di masa kecil saya, saat di bangku sekolah dasar (SD), saya pernah mendengar ucapan dari seorang guru, bahwa di dalam diri seorang anak manusia, terdapat dua unsur kekuatan yang selalu berlawanan. Dua kekuatan yang tarik-menarik antara unsur malaikat dan unsur setan alias iblis.
Secara rohani, apakah hal itu sungguh disadari oleh manusia? Kecenderungan unsur kekuatan yang mana, yang lebih dominan pada seorang anak manusia?
Itulah yang kita sebut, godaan iblis serta bisikan malaikat. Maka, kita pun sering, diajak agar tidak mudah termakan oleh bujuk rayu iblis. Tapi mendengarkan bisikan lembut malaikat lewat suara hati ini.
Dikatakan juga, suara bujukan iblis itu sangat menggelegar, terkadang mendayu-dayu, merayu-rayu, serta terus membujuk. Sedangkan bisikan suara malaikat terdengar lembut, lamat-lamat, dan halus.
Itu sebabnya, manusia biasa lebih mudah mendengar ajakan iblis, daripada bisikan malaikat.
Kita memang mudah tergoda. Godaan itu pun biasanya bertingkat-tingkat serta bermacam-macam pula.
Seorang pejabat publik, bagaimana sifat dan tingkat godaannya? Seorang tokoh atau pemimpin agama, lain pula jenis godaannya. Seorang mahasiswa yang ketiadaan uang kuliah, lain pula godaannya. Muda-mudi yang dimabuk asmara, unik pula godaannya. Jadi, sungguh licik, culas, tapi cerdas bisikan iblis itu.
Cara iblis mendatangi kita, bisa sambil memeluk mesra bahu kita, laksana seorang sahabat. Tapi, ujung-ujungnya, dia menawarkan segepok narkotik. Seorang istri berdandan cantik merayu suami minta dibelikan mobil atau rumah mewah. Suami yang seorang bendahara perusahaan segera terjerumus memanipulasi proses pembukuan di kantor.
Sedangkan bisikan malaikat biasanya tawarannya kurang sreg. Kita diajak berdonor darah, berdoa sebelum makan, atau berbagi pada mereka yang miskin dan papa.
Tulisan “Mendayung di Antara Dua Karang,” justru mau mengajak kita untuk berefleksi akan hadirnya kenyataan ini di dalam diri kita, dan disebut perang batin.
Sungguh, hidup ini bagai mendayung di antara dua karang!
Anda dan saya, kita, sering memilih yang mana?
…
Kediri,ย 23ย Agustusย 2023

