| Red-Joss.com | Menjalani hidup yang nyata itu berproses. Kita harus sabar untuk menjalani dan memaknainya. Terkadang kita harus menaiki atau menuruni anak tangga. Terkadang pula kita harus menembus dinding lapisan, jika hendak masuk.
Lapisan pertama: aku unik, karena aku berbeda dengan yang lain. Ada data-data kongkrit yang langsung bisa dilihat dan membedakan.
Lapisan kedua: cara berpikirku, merasa, dan caraku memaknai hidup tidak diketahui oleh yang lain jika aku tidak membagikannya. Kadang-kadang aku dibuat yakin dengan yang kupikirkan, yang kurasakan, dan yang aku maknai. Tapi, di saat yang berbeda, sungguh berbeda, aku sama sekali tidak yakin. Kurang percaya diri, ragu, cemas, dan takut.
Lapisan ketiga: proses menyeimbangkan. Aku tetap mau seperti sekarang ini atau mau berubah? Jika berubah, mau berubah dengan segera atau harus menunggu? Apa yang didapatkan dari perubahan itu? Di lapisan ini kita bergumul dengan diri sendiri untuk menentukan pilihan jalan hidup.
Lapisan Keeempat: ‘It is I’ – Ini aku. Rasa percaya diri yang terungkap. Hati yang damai, karena telah menemukan diri dan menjadi diri sendiri. Ketika berjumpa dengan orang lain, kita merasa berjumpa dengan pribadi yang istimewa. Untuk saling menghargai dan menghormati sesama sebagai makhluk ciptaan Allah yang istimewa.
Nilai yang didapatkan dari tiap pribadi itu adalah telah menemukan dirinya secara nyata. Sehingga dimudahkan untuk melihat hal yang baik dan positif. Jika berkata-kata dan berpendapat dipikirkan dulu demi manfaat dan hikmat.
‘Be yourself with the real of life’ – Jadilah diri sendiri dengan hidup yang nyata, dan bahagia.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

