| Red-Joss.com | Kubayangkan sebuah hidup yang bebas dari ketakutan. Takut ditolak, dihakimi, sakit, gagal, takut kecewa, dan banyak ketakutan yang lain.
Seorang bijak berkata: “Di mana ada cinta, di situ tidak ada ketakutan.” Ketakutan itu ibarat kegelapan yang segera lenyap, ketika cahaya datang bersinar.
Entah mengapa ingatanku melayang pada sosok Ayah.
Seingatku hingga saat Ayah berpulang, beliau tidak pernah sekali pun berkata kasar kepadaku. Ketika ada sesuatu yang harus diselesaikan ia memanggilku dan bertanya mengenai rencanaku dan segala hal yang hendak aku lakukan.
Ajakan Ayah itu mengajarku untuk melihat kembali kehidupanku. Ayah tidak ada permintaan padaku untuk membahagiakannya. Selain ajakan agar aku belajar bertanggung jawab atas segala hal yang aku lakukan.
Tidak ada ketakutan untuk membuktikan sesuatu pun. Tidak ada keharusan untuk menjadi yang terbaik. Juga tidak ada keharusan agar membahagiakannya. Sedikit pun tak ada harga yang harus aku berikan untuk memperoleh cintanya. Seakan cinta itu melimpah ruah tersedia bagiku karena ia Ayahku. Kendatipun aku tidak melakukan apa pun cintanya tetap hadir untukkku.
“Bapak tidak perlu marah. Saya Ayahnya juga tidak marah. Biarkan anak saya mencari sekolah lain, jika ia kesulitan menyesuaikan diri di tempat itu,” kata Ayah tenang, ketika menjawab telepon Dekan yang mengadukan masalahku, dan berharap aku mendapat teguran, karena nilai ujianku jelek.
Kubayangkan sungguh indah, jika setiap perjumpaan itu senantiasa bersematkan kidung cinta. Saling pengertian, tanpa menyalahkan atau menghakimi. Karena hal itu
sungguh melegakan saat setiap tatapan mata saling menyapa dihiasi senyuman indah yang berbisik lembut :
“Jangan takut!”
…
Herry Wibowo

