Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Anak kecil, ya, si anak kecil! Mereka itu, sang pemilik kerajaan Surga,” demikian kata Sang Guru Agung kita.
…
| Red-Joss.com | Jika berhadapan dengan anak-anak kecil, biasanya kita terpesona oleh kelucuannya, tubuhnya yang montok, menggemaskan, dan tentu, juga sifatnya yang lugu. Sifat yang sangat disukai oleh Sang Guru Agung kita. “Hendaklah kamu, menjadi seperti anak kecil ini!”
Selain keunikan-keunikan itu, saya justru teringat sifat kecerobohan kaum tua, yang menganggap remeh, bahkan memandang rendah kepada si anak kecil.
Ingat, kisah spektakuler dari Kitab Perjanjian Lama, hal perlawanan antara si kecil Daud dan si raksasa Goliat, yang sungguh menggelitik naluri kita.
Saat memandang si kecil Daud, raksasa Goliat itu berceloteh, “Anjingkah aku, sehingga engkau mendatangi aku hanya dengan tongkat?”
Sahut Daud, “Engkau mendatangi aku dengan pedang, tombak, serta lembing. Tapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah Israel.”
Raksasa Goliat itu berbaju zirah agung dan sejumlah perlengkapan berperang. Namun, Daud tanpa berbaju zirah, karena ukuran tubuhnya yang kecil. Daud tampil atas nama Raja Saul, justru hanya bersenjata sederhana dengan lima butir batu kecil.
Di akhir kisah, ternyata raksasa Goliat itu terjungkal oleh sebiji batu kecil.
Nilai dan hikmah apa yang kita petik dari kisah ini?
Sebagai orang dewasa, kita tidak boleh memandang remeh anak kecil. Karena anak kecil itu justru memiliki sejuta potensi besar, demi meraih masa depannya.
Kehidupan dan proses tumbuh kembang anak manusia itu, justru diawali dari masa kecil, lalu menjadi remaja, pemuda, dewasa, dan menjadi tua.
Para orangtua diajak mengubah cara berpikir dan cara pandang terhadap anak kecil. Karena anak kecil itu tidak identik dengan si lemah kerdil. Mereka, justru memiliki aneka potensi besar, yang bahkan sanggup mengguncang dunia.
Lihat realitas abad ke dua puluh satu ini. Anak-anak kita yang dijuluki generasi Y dan Z yang telah memperlihatkan potensi dasyat mereka.
Di balik itu, anak kecil adalah simbol kerendahan hati, ketulusan, dan kebergantungan manusia kepada Tuhan, Sang Maha Dasyat. Artinya kekuatan fisik manusia yang senantiasa berbaju zirah, dibandingkan dengan kaum dina papa, namun hidupnya hanya bergantung pada kekuatan dasyat Tuhan.
Semoga, kita mampu membangun kesadaran untuk menimba kekuatan dasyat kepada Tuhan semata.
…
Kediri,ย 21ย Agustusย 2023

