| Red-Joss.com | Mengapa orang itu dikatakan rakus? Karena sudah berlebihan, tidak wajar, dan tidak normal.
Orang yang rakus itu cenderung egois. Karena antara yang dilihat dan kemampuannya tidak dipertimbangkan dengan baik.
Sesungguhnya, mata, pikiran, dan hati orang yang rakus itu harus dididik, dan harus bisa dikendalikan.
Kita melihat orang yang rakus itu justru kasihan. Karena mudah gelisah dan tidak dapat menikmati indahnya kebersamaan. Bahkan mereka tidak bisa melihat orang lain itu bahagia.
Mengapa ada sifat seperti ini? Begitulah hal-hal duniawi dan gengsi telah memberikan kontribusi, sehingga orang itu menjadi rakus.
Tuhan Yesus dengan tegas berkata, “Take care to guard against all greed …” (Luke 12:15). Hati-hati. Sebab, ketika kita menjadi pribadi yang rakus, kita tidak bisa lagi mengendalikan “mata, pikiran, hati, keinginan, dan nafsu” lagi. Ujung-ujungnya kita berbuat dosa.
Salah satu cara untuk sembuh dari sifat rakus adalah kita berbagi dengan murah hati. Ingat, “Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil,” begitu kata Ayub.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

