Fr. M. Christoforus, BHK
“Awasi mulutku, ya
Tuhan, berjagalah padapintu bibirku!”
(Mazmur 141: 3)…
| Red-Joss.com | Banyak orang yang merasa sangat terganggu, dan bahkan sampai terluka hatinya, karena dikata-katai orang lain. Banyak orang akan menghindar, jika berhadapan dengan orang yang bocor mulut alias si mulut bocor. Mengapa? Ada apa dengan si bocor mulut?
Saat saya kuliah di sebuah kampus negeri, di bumi Sriwijaya, Palembang, 1983 – 1987, saya dan beberapa orang teman kuliah biasanya suka menggosip. Karena merasa sebal, muak, dan bahkan sangat terganggu dengan kehadiran seorang teman kuliah yang kami gelari si mulut bocor alias si bocor mulut.
Kiasan itu ditujukan kepada sosok pribadi yang tidak dapat menahan perkataannya (suka membocorkan sebuah rahasia).
Ternyata sudah sejak beribu tahun silam, masyarakat dunia tidak menyukai perangai orang yang bermulut bocor. Hal ini, secara Alkitabiah pun, dapat dibuktikan. Dalam kitab Mazmur terungkap doa dan harapan agar Tuhan, Sang Maha Bijaksana, sudi menjaga pintu bibir sang pemohon: “Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku.”
Sungguh nista kehadiran seorang yang berbocor mulut di tengah kehidupan ini. Dia akan menjadi batu sandungan dan pokok pergunjingan bagi banyak orang. Nyata, bahwa kehadirannya sungguh tidak dikehendaki. Sungguh betapa pentingnya, kita diharapkan untuk menjaga pintu bibir kita.
Persoalan kemanusiaan di bumi ini, antara lain, juga disebabkan oleh sosok pribadi yang tidak pandai menjaga pintu bibirnya. Dampaknya, banyak orang terluka akibat tuturannya yang tidak dapat dikendalikan. Bahkan sebuah rahasia yang tersimpan rapi pun dengan seenaknya, dibocorkan kepada khalayak ramai.
Ibarat hembusan angin barbau busuk, maka segera tersebarlah rahasia yang selama ini dijaga rapi atas nama kemanusiaan.
Dalam konteks ini, keluarga dan lembaga pendidikan kita, diharapkan dapat berperan sebagai penjaga gawang utama, menerapkan pendidikan etika serta kesantunan berbahasa.
Kini, kita makin paham, mengapa sampai kakek dan nenek kita pun, rela membudayakan ungkapan, “mulutmu, harimaumu!”
Kediri, 19. Agustus 2023
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

