| Red-Joss.com | Lampu merah bercerita sangat banyak tentang cara manusia ‘me-makna-i’ hidupnya.
Ada lelaki muda mendorong seorang ibu (lebih tua) yang sepertinya buta, meliuk di antara celah motor dan mobil demi gopek atau seribu-dua ribu.
Ada ibu muda bersolo usaha dengan botol aqua tanpa air, diisi 2 atau 3 batu kecil, untuk menimbulkan bunyi ecrek-ecrek. Menerobos sela di antara mobil dan motor yang belum lama dilalui oleh lelaki pendorong ibu tadi.
Di lampu merah lain ada juga manusia yang membungkukkan badan, lalu hormat ala tentara, memandang ke langit dan bergerak dengan trempolong kosong berharap ada yang tergerak hati merogoh kocek.
Semuanya demi sesuap nasi atau mungkin saja untuk menambah membeli obat untuk suami atau Ayahnya yang tak berdaya, karena stroke atau sakit lainnya.
Saya tidak berani dan tidak mau berburuk sangka terhadap mereka. Awalnya memang saya juga gregetan, koq hanya begitu mereka menjalani hidup.
Ada kisah lain. Tentang Pak Sujud, tetangga sahabatku yg tinggal di desa. Usianya 63 tahun, tapi masih bugar. Dia tinggal seorang diri di rumahnya, di desa yang banyak sawahnya. Istrinya meninggal saat masih muda dan dua anaknya semua bekerja merantau di Jakarta. Untuk mengisi harinya Pak Sujud merawat sawah, kebun dan juga mengerjakan beberapa pekerjaan pertukangan.
Jadwal Pak Sujud sangat rutin. Bangun jam 4 pagi, kemudian shalat Subuh di Masjid desa. Usai shalat, dia membersihkan saluran irigasi yang mengaliri sawahnya. Kemudian lanjut dengan merawat sawah dan juga kebun yang tidak jauh dari rumahnya. Siang hari Pak Sujud mengerjakan kerjaan pertukangan di rumah yang sedang dibangun. Keahlian sebagai tukang ini seringkali dimanfaatkan tetangga untuk membantu membereskan rumah saat ada kebocoran ataupun hal lain yang memerlukan keahlian Pak Sujud.
Seringkali kami, kata sahabatku, mendapatkan kejutan dengan datangnya sesisir pisang kepok dari Pak Sujud. Dia menolak bila kami hendak membayarnya. Cukup dengan membuatkan kopi pahit yang kental dan menemaninya ngobrol sudah membuatnya bahagia.
Kejutan terjadi ketika Pak Sujud meninggal. Antrian pelayat mengular untuk memberi penghormatan terakhir. Banyak cerita indah tentang almarhum.
Pak Sujud itu orang yang soleh dan baik hati. Dia selalu merawat irigasi untuk sawah kami semua. Setiap pagi.
Kalau tidak ada Pak Sujud, kami pasti repot dengan rumah tua kami yang sering bocor. Pak Sujud adalah tetangga yang seperti saudara.
Sering kali Pak Sujud memberi kejutan. Membawa singkong kesukaan suami saya.
Hidup Pak Sujud penuh ‘makna’, karena dibagikan, lebih dari hanya koleksi.
Jangan jenuh berbagi cahaya.
…
Jlitheng
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

