| Red-Joss.com | Bapak tua itu menurut perkiraanku usianya di atas 60 tahun. Ia mempunyai sepasang mata yang memancarkan jiwa nan letih. Gurat kesedihan juga tersirat di wajahnya yang kuyu itu.
Bapak tua itu biasa duduk di bangku deretan tengah untuk mengikuti misa pagi harian di Gereja Antonius Bidara Cina, Jakarta Timur.
Bapak itu selalu duduk di bangku yang sama, itu kesan saya setiap kali mengikuti misa harian. Jika saya sekalian mengantarkan anak-anak sekolah.
“Hindarto,” suaranya lirih, ketika kami kesempatan berkenalan.
Menurut cerita orang, Pak Hindarto selalu datang pagi hari untuk memunguti botol plastik bekas minuman di sekitar gereja dan sekolahan, sebelum kemudian ia ikut mengikuti misa pagi setiap hari.
Terbersit sebuah keraguan di hati ini, “Apakah seperti ini hidup seorang yang senantiasa datang menjumpai Tuhan sebagai pembuka harinya? Apakah seperti ini hidup seorang pribadi yang selalu menjadikan Tuhan kerinduan di hatinya?”
Saya termangu untuk refleksi diri.
Tapi tiba-tiba muncul rasa sedih diikuti oleh sebuah kesadaran lewat sapaan lembut dan mesra di hati:
“Jumpailah Aku tidak hanya dalam doa-doamu, tapi juga dalam wajah saudaramu itu.”
Saya tersentak seperti disadarkan oleh realita hidup Pak Hindarto. Saya mengambil sebuah amplop dari dalam mobil, dan kuisi dengan beberapa lembar uang kertas. Saya minta anakku untuk menulis sapaan kecil di amplop itu:
Selamat pagi Pak Hindarto
Semoga Bapak selalu sehat
Tuhan memberkati
Saya lalu menyuruh anakku untuk memberikan amplop itu kepada Pak Hindarto.
“Jumpailah Tuhan yang hadir dalam hidup Pak Hindarto, Nak. Semoga Tuhan yang engkau jumpai memberkati hidup anakku.”
…
Herry Wibowo
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

