| Red-Joss.com | Terlintas juga impian jadi anak orang kaya. Memiliki semuanya. Namun, di saat melihat perjuangan serta kerja keras Bapak Simbok untuk membahagiakanku dan kakakku, akhirnya membuatku berhenti untuk mengkhayal hal-hal yang sulit menjadi kenyataan seperti itu. Karena nyatanya adalah aku terlahir dari keluarga yang sederhana.
Orangtuaku memang tidak kaya, sedikit saja memiliki harta . Sepeda pun tidak punya, apalagi mobil mewah. Apa pun yang aku minta hampir tidak pernah diberikan. Tapi aku tahu dan akhirnya sadar, bahwa semua itu bukan karena orangtua tidak menyayangiku, akan tetapi mereka memang tidak memiliki banyak uang untuk memenuhi apa yang aku minta.
Pelan tapi pasti, saya tumbuh menjadi pribadi yang bukan penuntut dan… mudah merasa bahagia.
Kemarin malam, sekira jam 20.00 saya membaringkan diri oleh rasa kantuk yang luar biasa. Sejenak saya sempatkan membaca WA, respons tulisanki di senja hari. Ada satu yang sangat menarik dan yang membuat saya merasa bahagia:
Opa … (begitu saya disapa oleh sahabat mudaku).
Sementara saya belum selesai membaca WA dari handai taulan, Opa tetap punya waktu untuk menulis dan mengirim refleksi …?
Saya kaget, tapi juga hepi… dengan pernyataannya itu. Dia hadir dengan hatinya, ketika membaca tulisanku.
Dua hal itu yang saya pelajari dari Keluarga Kudus Nazareth. Hadir dengan hati.
Jika itu yang terjadi, hadir dengan hati, dalam keluarga ataupun di mana kita, akan selalu membawa sukacita.
Tetap siaga berbagi cahaya.
Jlitheng
…
Foto Ilstrasi: Istimewa

