Oleh : Mas Redjo
[Red-Joss.com] Kita tentu sedih, ketika benda atau barang kesayangan kita jatuh dan rusak. Apalagi jika barang itu hilang. Banyak di antara kita yang jadi ‘shock’, bahkan memendam kesedihan itu hingga berlarut-larut.
Lihat Abg yang kehilangan hp kesayangannya itu. Abg seperti cacing kepanasan, uring-uringan, dan ‘shock’ berat. Bukan karena Abg tidak mampu membeli hp baru, melainkan di hp itu penuh foto kenangan dan hal penting lainnya. Aktivitasnya adalah hp, bahkan hp telah menjadi bagian dari hidupnya.
Begitu pula dengan kisah Nyaitua yang ditinggal mati oleh suaminya secara mendadak, karena serangan jantung. Nyaitua merasa tidak siap, apalagi ia belum meminta maaf, karena telah berbuat salah. Ia lalu senang mengurung diri dan susah makan. Penghiburan oleh anak dan keluarga tidak mampu mengobati penyesalannya.
Bisa jadi kisah Abg atau Nyaitua itu terjadi pada kita. Ketika hidup kita sangat bergantung pada barang, ditinggal pacar kawin, atau orang terdekat wafat. Kita berduka, karena merasa kehilangan. Bahkan banyak di antara kita yang menyiksa diri, putus-asa, hingga melukai diri atau mengambil jalan pintas nan tragis.
Sesungguhnya, mengapa kita amat terpukul saat kehilangan barang atau orang yang kita sayangi?
Jawabannya, bukan karena siap atau tidaknya kita kehilangan itu. Melainkan kita lemah iman. Kita tidak mau melihat hikmah di balik peristiwa itu. Kita tidak berani menghadapi kenyataan pahit itu.
Rasa kehilangan itu muncul, karena kita menjauhi Allah. Sebaliknya, kita yang dekat dan bergantung pada Allah, apa pun peristiwa hidup ini, sesungguhnya kita diajak untuk memaknai dan mensyukurinya. Kita diajak untuk melihat karya Allah dalam hidup ini. Bahwa hidup itu berhikmat.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih, lesu, dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11: 28).
Dengan membiasakan diri untuk membuka hati, sujud, dan menghadap Allah, maka IA selalu sertai kita. Sehingga, seberat dan sepahit apa pun peristiwa hidup ini, iman kita makin diteguhkan agar kita setia pada-Nya.
Mas Redjo

