Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
[Red-Joss.com] Aku butuh doamu, dukungan, nasihat, dan kata-katamu yang menghibur.
Bukannya aku tidak berani berjuang sendiri, melainkan lebih baik ada yang menemani, mengiringi, dan menguatkan.
Seorang sahabat, bukan sekadar pribadi yang bertubuh dan mempunyai jiwa, tapi lebih dari itu. Ia adalah pelita di saat jalan yang dilalui gelap. Ia adalah air di saat berjalan mengalami kehausan. Ia adalah kompas di saat berjalan sedang melangkah ke arah yang salah.
Memang ada juga orang yang memilih berjalan sendiri, tapi sebaiknya jangan dilakukan. Ada yang bahagia berjalan sendiri, tapi itu tidak pas. Ada juga orang yang merasa bebas, ketika berjalan sendiri, padahal itu kurang bijaksana.
Hidup kita seperti di hutan rimba, di mana pada saat tertentu, akan membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa. Hidup seperti mendaki gunung yang tinggi, di mana pada saat tertentu, kita berada di titik yang beresiko. Hidup itu seperti di tengah samudra, di mana kita terombang-ambing, dan dengan pasrah berdoa supaya segera tiba di tepian pantai.
Jika ada sahabat, yang sedang berjalan dan berjuang sendiri, coba tanyakan kepadanya, “bisakah kita menemani dan diizinkan menjadi sahabat barunya.” Pasti dia akan bahagia, karena kita telah menjadi pelita baginya. Kemudian kita akan menjadi air dan kompas baginya.
Rm. Petrus Santoso SCJ

