Oleh : Mas Redjo
[Red-Joss.com] Apa pun status seseorang itu harus dihargai. Tapi dari status orang itu kita dapat melihat karakter dan kualitas orang itu.
Sederhana, tegas, dan jelas. Lalu, apa yang hendak kita warnai dalam status peziarahan ini?
Tidak harus segera diputuskan, tapi sebagai bahan refleksi diri. Karena cepat atau lambat, kita bakal akhiri peziarahan hidup ini. Mau berbuat apa dan tujuan kita mau ke mana?
โUrip mung mampir ngombe.โ Hidup ini hanya sementara.
Realitas itu yang mendasari saya sadar diri. Cepat atau lambat saya harus pulang, menghadap kepada Allah. Mempertanggungjawabkan hidup saya.
Bersyukur, saya sungguh bersyukur, karena diingatkan oleh pengalaman pahit sepahitnya yang terjadi dalam keluarga sendiri.
Semula saya berpikir, istri bersikap tidak tegas pada anak, ternyata semua itu dilakukan demi kasih.
โKetimbang kita menuntut anak untuk berubah, lebih baik kita yang berubah sendiri. Dengan bertekun dalam doa, kita mohon Allah agar berkenan untuk mengubah hatinya.โ
Penyerahan diri yang totalitas itu membuat saya malu semalunya untuk melihat diri sendiri secara utuh.
Istri memberi kesempatan pada anak untuk berubah dan perbaiki diri, seperti Allah selalu memberi kesempatan untuk ingatkan kita lewat berjuta peristiwa dan cara agar kita kembali kepada-Nya.
Kenyataannya saya merasa โlebihโ dibandingkan dengan anggota keluarga atau orang lain. Karena saya yang bekerja, ini-itu, dan merasa di atas angin. Hal itu yang membuat saya terlena, dan lupa diri.
Teguran itu membuat sikap saya langsung berubah 180 derajat. Semula saya senang berselfi-ria, pamer aktivitas supaya wow. Saya hobi nyinyir, menghasut, memfitnah, hingga menyebar hoaks.
Perlahan tapi pasti saya sembunyi, lalu menghilang agar dilupakan.
Ternyata hal jelek dan buruk itu sulit dilupakan. Buktinya, ketika saya muncul kembali dengan figur dan status baru, banyak orang tidak percaya. Saya dianggap munafik, aneh, manusia langka, dan banyak lagi.
Sebutan jelek dan komentar sejahat apa pun dari orang lain itu tidak saya balas dengan makian atau nyinyiran. Saya memilih diam untuk refleksi diri.
Sungguh ajaib! Tiba-tiba saya jadi piawai menyusun kata-kata untuk berbagi motivasi dan inspirasi kehidupan. Saya disadarkan oleh kenyataan, bahwa hidup ini hanya sementara. Hidup untuk diarahkan dan fokus pada Allah agar tidak disesatkan oleh si jahat. Saya harus selalu perbaharui hidup ini agar jadi baik, dan lebih baik lagi.
Saya makin getol menulis hal-hal baik dan positif untuk saya bagi-bagikan. Tujuan saya adalah meninggalkan ego sendiri. Saya ingin dekat, dan makin dekat dengan Allah Sang Pencipta. Karena saya ini milik-Nya.
Masย Redjo.

