RedJoss.com – Tidak semudah itu, jika kita disuruh tutup mulut. TST alias tahu sama tahu itu bukan untuk menyelesaikan masalah, melainkan membuat masalah semakin keruh dan runyam.
Uang kaget itu sering kali membuat kita terkaget-kaget. Kita diam, tutup mulut, dan bahagia. Bahkan ada juga yang bangga luar biasa hingga salah arah, rezeki nomplok disyukuri dengan narsis di medsos.
Berbeda bagi orang bijak yang sadar diri. Dia tidak asal menerima rezeki nomplok tanpa terlebih dulu menelusuri kejelasan asal usul atau sumber uang itu.
Bukan percaya atau tidak percaya pada orang yang memberi, melainkan kita wajib eling lan waspada agar kita tidak salah langkah. Ibarat, satu orang makan nangka, semua kena getahnya. Menyesal belakangan itu percuma dan tiada guna.
Coba dipikir, apakah kita tega memberi makan keluarga dari uang korupsi, haram, dan berpikir akibat yang timbul di kemudian hari? Nikmatnya sesaat, tapi aibnya itu tak bisa dicuci.
Begitu pula jika pasangan kita memperoleh rezeki nomplok. Kita tidak asal menerima sebagai kebetulan lalu digunakan untuk membeli barang konsumtif dan demi gengsi. Tapi kita wajib bertanya dan mengingatkan karena kita menyayangi keluarga.
Bersikap peduli dan jujur sejujurnya terhadap pasangan dan keluarga itu fondasi kita membangun rumah tangga agar kita saling percaya dan mengasihi.
Kita juga tidak perlu malu atau gengsi, karena hidup sederhana dan pas-pasan. Bukan memanasi atau meneror pasangan agar berbuat curang, melainkan kita harus saling mengingatkan dan mendorong agar hidup keluarga semakin membaik dan mapan.
Jadi, ketika kita memperoleh rezeki nomplok agar TST alias uang tutup mulut, sebaiknya kita berani bersikap tegas menolak dengan halus. Kita menjadi tempe sebagai penyeimbang. Karena, “TST, tahu sama tempe itu oke.”
Maaf, jangan pernah takut untuk mengingatkan, jika kita peduli dan menyayangi teman atau orang terdekat, agar kita berani mencukupkan diri dan bersyukur.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

