RedJoss.com – Pasti bingung, apa itu APB? Bisa jadi, barangkali baru kali ini mendengar istilah itu, sehingga asing bagi telinga kita.
Ya, APB itu singkatan dan tidak familiar, jika tidak dikenal atau tidak diketahui orang, hal itu wajib dipahami dan dimaklumi. APB itu kepanjangan dari Anjungan Panen Buah. Maksudnya …?
Tidak jauh berbeda dengan ATM alias Anjungan Tunai Mandiri, APB itu berarti tempat memanen buah. Bedanya, kartu ATM digunakan untuk transaksi pembayaran, sedang APB sebagai sarana penjualan buah. Lebih daripada itu, jika kita jeli melihat peluang, APB dapat difungsikan sebagai tempat tujuan wisata.
Jangan penasaran, berkerut kening, bingung, dan akhirnya pusing. APB itu sederhana dan mudah dipahami.
Semua orang tentu ingin memiliki uang yang produktif agar uang kita terus berkembang dan bertambah banyak. Ada uang yang digunakan untuk berbisnis, tapi ada juga yang disimpan di bank.
Kenyataannya, di saat pandemi seperti ini, ekonomi dunia sedang terseok-seok. Semua bidang usaha terdampak, bahkan banyak usaha yang gulung tikar alias bangkrut.
Kita ingin usaha, tapi tidak tahu usaha yang cocok, karena ekonomi yang melambat. Juga uang yang disimpan di bank kurang produktif, karena bunga bank yang terus menurun (Bunga deposito 2-3% pertahun).
Dalam situasi sulit itu, banyak sekali tawaran kerja sama yang memberi keuntungan fantastis, tidak masuk akal, membuat silau mata, dan membius iman. Akibatnya, karena ingin cepat kaya dan berlimpah uang, banyak orang tertipu investasi bodong.
Ingin kaya itu tidak salah, tapi kita harus berani realistis. Untuk sukses dan menjadi kaya itu tidak ada yang secara instan, tapi berproses dan butuh perjuangan ekstra keras.
Sekiranya kita ragu-ragu dan tidak percaya diri, menyimpan uang di bank adalah pilihan yang tepat, karena tidak beresiko. Sebaliknya, jika kita senang berwirausaha, peluang berinvestasi ke properti atau tanah itu layak menjadi pertimbangan utama.
Pandemi panjang berdampak pada harga properti yang anjlok drastis. Kini, saatnya kita membeli dan berinvestasi. Karena, setelah pandemi, harga properti dan tanah cenderung naik.
Berinvestasi ke properti dan tanah itu jauh dari rugi, karena harga yang sulit turun (kecuali pandemi dan jual BU). Apalagi, jika kita mengolah lahan itu untuk usaha produktif.
Properti yang kita beli dapat dimanfaatkan sebagai kantor, berdagang, atau disewakan. Bisa juga untuk disekolahkan ke bank, sebagai jaminan hutang.
Sebaliknya, jika membeli lahan kosong (tanah), kita harus memikirkan peruntukannya yang jelas agar tidak mubazir. Tanah itu kita olah untuk ditanami pohon-pohon produktif yang mudah laku dijual agar menghasilkan uang.
Sekiranya kita tidak mempunyai dana yang besar untuk membeli lahan, kita dapat patungan dengan beberapa teman. Bisa juga, jika ada pemodal atau pemilik lahan yang mengkreditkan lahan itu dengan konsep masa depan. Selain untuk ditanamani pohon-pohon produktif,
sebagai paru-paru dunia, tujuan wisata, atau sebagai APB (Anjungan Panen Buah). Berekreasi menikmati udara segar sambil mencicipi buah-buahan… (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

