Oleh : Rio Scj.
“Tenang menerima apa yang tak bisa diubah, berani mengubah untuk sesuatu yang bisa diubah, dan bijaksana atas perbedaan keduanya.” – Reinhold Nieburh
[Red-Joss.com] ‘Stoicism’, mungkin kosa kata baru, tapi relevan hingga saat ini. Stokisme memang pemikiran sejak zaman Yunani dan Romawi kuno oleh Zeno, lalu dikembangkan Seneca, Marcus Aurelius. Meski usang, tapi relevan dan populer untuk zaman sekarang, karena berguna dalam hidup keseharian. Stoikisme mengajarkan sikap untuk tetap tenang di saat menghadapi situasi sulit. Tujuan utamannya adalah ‘self mastery’; penguasaan diri.
Orang yang mampu menguasai diri itu bersikap tenang, tahan banting, bijak dalam hidup, dan miliki emosi yang seimbang. Dalam hal ini, kita hanya bisa mengendalikan yang dalam diri sendiri: pikiran, rasa, respon dan tindakan kita sendiri. Kita tidak mampu mengendalikan hal eksternal di luar kendali kita. Penilaian dan respon kitalah yang bisa kita kendalikan.
Kita tidak mungkin mengubah situasi, keadaan, atau bahkan orang lain. Saat orang tidak senang, dia tak mau menerima kita. Meski hingga mulut kita berbusa untuk menjelaskan, hasilnya tiada guna. Stoikisme tak akan menghabiskan waktu, perasaan, dan tenaga untuk memaksa menjelaskan. Ia tetap tenang dan menunjukan dengan tindakan kasih secara konsisten. “Speak less act more.”
Orang lain tidak suka, nyinyir, curiga dan membully itu terserah mereka. Stoikisme akan memberikan diri dengan baik dan menyiapkan diri dan melatih hal-hal baik. Ia sadar bahwa tidak ada yang permanen dalam hidup ini. Barang baik dan bagus itu bisa rusak atau hilang. Orang tercinta bisa pergi mendadak meninggalkan kita dengan suatu alasan atau dipanggil Tuhan yang kuasa. Begitu pula dengan kekayaan, reputasi, kekuasaan, dan ketenaran. Tidak ada yang pasti di dunia ini, kecuali Tuhan.
Jadikan stoikisme sebagai pijakan untuk semakin mengenal dan mencintai diri, menghargai sesama, dan makin mengimani Tuhan. “No panic, speak less act more.” Kurangi bicara, perbanyak bertindak!
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

