Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
[Red-Joss.com] Di dunia ini kita mengenal ada dua model kabar. Ada kabar baik dan ada kabar buruk. Atau berita baik dan berita duka.
Selain itu, ada sejumlah ungkapan atau kiasan yang menggunakan kata “kabar.” Semisal, kabar angin, kabar burung, dan kabar duka.
Kabar duka atau berita duka. Sudah sangat mengglobal dan bahkan bak santapan harian, kita selalu mendengar ada kabar duka.
Kabar tentang kematian, kehilangan, kepergian abadi ini, sungguh menyisakan duka mendalam, bahkan mematikan semangat hidup orang yang ditinggalkan.
Ada sebuah adagium Latin, “Hodie mihi, crass tibi,” yang artinya hari ini saya, dan besok engkau. Bukankah hampir setiap hari kita menerima kabar duka?
Ada aneka faktor penyebab, sehingga maut datang merenggut nyawa seorang manusia atau bahkan, sekelompok manusia. Masih ingatkah kita, akan bencana tsunami di bumi serambi Mekah, Aceh? Lewat peristiwa itu, maka ribuan nyawa manusia pun terenggut.
Tentu, sebuah kematian, tidak selalu sebagai dampak faktor usia tua. Karena banyak juga kematian manusia di usia yang sangat belia. Akibat kecelakaan kendaraan, mati dibunuh atau pun bunuh diri, misalnya. Tentu, masih ada seribu satu aspek penyebab lainnya.
Lazimnya, sebuah berita duka, tentu akan selalu meninggalkan luka-luka batin dan trauma yang sangat mendalam.
Ironisnya kematian itu bagaikan seorang sahabat terbaik bagi setiap orang. Bahkan, sebagai sebuah keharusan bagi setiap manusia.
Bukankah sebuah kematian adalah hukum kehidupan yang wajib kita jalani? “Barang siapa yang dilahirkan ke atas bumi maya ini, dia pasti akan menghadapi sebuah kenyataan paling pahit, yakni kematiannya.”
Sebuah berita duka yang pasti menimpa setiap manusia, ialah saat ‘direnggut sang kekasih, kematian!’ Selaku sang kekasih nan ajaib, dia pun akan selalu berada di samping kita.
Dia pun datang untuk menjemput kita, entah kapan, bagaimana, mengapa, dan di mana. Itulah hak prerogatif-Nya.
“Karena akan tiba waktu dan saatnya, kamu akan diambil dari dunia ini!”
Kediri, 11 Agustus 2023

