Oleh : Jlitheng
Dari cerita cah de Britto:
(Cara seseorang menanggapi kritik atau cemoohan pada dirinya akan menampakkan mutu dirinya. Jelas beda).
Saat saya masih tinggal di Yogyakarta di Paroki Kotabaru, salah satu pastor idola saya adalah Romo Jacobs. Pria Belanda yang berperawakan tegap berambut keriting pirang ini selalu tampil serius tanpa senyum ketika berjalan menuju mimbar khotbah.
Salah satu khotbah yang saya masih ingat meskipun sudah lebih dari 40 tahun adalah, ketika Romo Prof Dr Tom Jacobs, SJ ini naik angkutan umum yang disebut kolt kampus. Kendaraan Mitsubishi jenis Colt pick up ini menjadi angkutan popular masyarakat tahun 70-80an. Pintunya ada di belakang, sehingga penumpang yang duduk duluan mesti memberikan jalan di gang sempit kendaraan kecil ini. Romo Jacob naik belakangan, dan penumpang yang duduk sebelumnya bergumam, โasu tenan, londo iki biasane ra tau adusโ (anjing, orang Belanda itu, kalau pergi gak pernah mandi). Pikirnya, orang yang baru naik ini pasti turis asing yang tinggal di sekitaran stasiun Tugu. Mendengar itu, Romo tetap diam dengan gayanya yang cuek. Ketika turun duluan di depan Kolsani di Jalan Abubakar Ali, Romo Jacob berujar โnderek langkung, segawon bade mandapโ – Bahasa Jawa halus yang berarti, permisi, anjing mau turun duluan. Kami pun terpingkal-pingkal dibuatnya, meskipun Romo Tom tetap serius.
Sekarang ketika orang heboh dengan makian seorang dosen filsafat RG kepada presidennya dengan ungkapan kasar bajingan dungu tolol, saya mencoba menyamakan respon senyum Romo Jacobs dan Presiden Jokowi. Respon Pak Jokowi santai, ๐.. ah itu, masalah kecil, saya bekerja saja โฆ Luar biasa.
(Keduanya tidak reaktif menanggapi cemoohan, apalagi memprovokasi orang lain, supaya membela dirinya dan mengucilkan yang tidak disukai? Mereka beda kulit saja, keduanya punya nilai yang sama: โwani ngalah luhur wekasaneโ. Sebuah kesalehan yang lahir bukan dari buku tapi penghayatan. Lagian keduanya sosok pemersatu. Tidak ingin membenturkan umat dengan umat demi kepentingannya).
โSebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhanโ (Roma 14: 8)
Salam sehat berlimpah berkat.
Jlitheng.

