Oleh : Rio Scj.
“Stop membandingkan, tapi teruslah berjuang.” – Rio, Scj.
Obrolan ringan suami istri di pagi hari sambil menikmati kopi.
“Ma, keluarga Pak RT itu romantis banget, ya…”
“Iya, rumah tangga Pak RT itu kayak hari Valentine,” sahut sang istri. “Setiap hari selalu romantis-romantisan.”
“Nah, kalau rumah tangga Pak RW?”
“Oh, Pak Tomo, rumah tangga mereka itu kayak hari Idulfitri.”
“Kok bisa, Ma” sanggah suami.
“Iyalah, karena mereka maaf-maafan terus. Jadi hidupnya rukun bahagia dan damai.”
“Lalu, kalau pojok jalan keluarga pak Yosef Tromol yang suka burung itu, Ma?” tanya suami.
“Oh, suaminya Bu Tia ndut itu ya, Pa. Kalau itu kayak hari Imlek. Kok bisa? Lha tiap hari suaminya kasih angpao terus,” jawab sang istri.
“Kalau keluarga kita sendiri, Ma?” tanya sang suami.
“Keluarga kita itu kayak hari buruh, Pa. Kerjaanku banyak, upah sedikit. Giliran pas aku protes nggak pernah didengerin, apalagi di tanggapin,” jawab sang istri
Yuk, kita merenung. Keluarga kita seperti apa. Berhentilah untuk membanding-bandingkan. Ketimbang membanding-bandingkan, lebih baik berjuang. Berjuang untuk membahagiakan, mensejahterakan, dan jadi berkat. Kita berjuang bersama agar dalam keluarga dipenuhi kasih sayang, damai, dan mudah memaafkan.
Meski semua itu tidak mudah, tapi teruslah berusaha, berdoa dan berjuang.
Saling mengalah, sabar, dan rendah hati agar keluarga kita dilimpahi damai sejahtera dan bahagia.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

