RedJoss.com – Sekiranya kita jalan-jalan ke suatu desa atau perkampungan, kita tentu pernah menemukan kendi, tempat untuk menyimpan air yang berbentuk seperti teko dan dibuat dari tanah liat.
Kendi itu diletakkan di atas nampan bersama beberapa gelas. Biasanya ditaruh di depan pintu pekarangan atau rumah. Air kendi itu disediakan untuk umum, dan siapapun boleh meminumnya. Air kendi yang bening dan dingin, jika diminum berasa nyes di hati dan tubuh pun langsung segar kembali.
Terinspirasi oleh kendi itu, saya lalu berjualan kendi beserta airnya. Tapi bukan air biasa, karena air itu dimanterai doa. Kenapa air yang didoakan? Supaya air itu mampu meredakan emosi, menjernihkan hati, menyembuhkan pengaruh jahat, dan seterusnya. Orang yang minum air itu hatinya selalu adem dan sejuk.
Tujuan saya berjualan air dan kendi itu satu paket. Saya tidak melayani orang yang sekadar ingin membeli kendi atau airnya saja. Tetapi, jika ada orang yang sekadar minta minum air kendi, saya akan memberikan secara gratis.
Tentang air yang didoakan itu, saya tidak woro-woro atau bercerita pada orang lain. Saya sadar sesadarnya, saya adalah orang bodoh yang sebodoh-bodohnya dan tidak mempunyai ilmu olah batin. Tapi saya percaya, niat dan tujuan yang baik itu menjauhkan kita dari yang jahat, dan diridhoi Allah.
Boleh percaya atau tidak, jualan paket air & kendi saya laris manis. Bisa jadi cara berjualan saya yang unik, membawa interior pedesaan, atau gara-gara orang rindu suasana desa yang alami.
“Pak yang benar mana nih, jualan air bonusnya kendi, atau jual kendi bonusnya air?” Celoteh semacam itu biasa saya dengar.
Saya tertawa renyah, dan menanggapinya dengan santai.
“Bonusnya tubuh menjadi segar. Bagas waras, sehat jasmani dan rohani.”
Pernah juga ada pelanggan yang datang kepada saya memberi bingkisan, karena saudaranya yang terkena guna-guna langsung membaik dan sehat, setelah minum air kendi dari saya.
“Ah, itu bukan dari air kendi, mas, tapi sudah kehendak Allah, sehingga saudara mas sembuh,” kilah saya sambil menolak bingkisan itu.
Dari pelanggan yang satu ke pelanggan yang lain juga memberi kesaksian yang sama. Air kendi yang saya jual itu menyembuhkan penyakit, dan semua itu atas kehendak Allah.
Jualan air kendi yang laris manis itu juga tidak selalu berdampak positif. Karena ada orang yang meniupkan gosip, bahwa saya menggunakan jasa pesugihan.
Hal yang biasa terjadi, ketika orang lain maju atau sukses, ada orang yang iri, dan itu tanda tak mampu.
“Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” sambut saya ramah pada lelaki kekar yang barusan turun dari motor.
“Bapak jualan air atau kendi?” tanyanya ketus.
“Satu paket, pak. Air dan kendi.”
“Bukan jualan air, atau kendi?” tanyanya lagi. “Bisa beli kendinya saja, tapi tidak dengan airnya…”
“Maaf, air dan kendi itu satu paket.”
“Kalau saya tidak butuh airnya?”
“Sekali lagi maaf, saya tidak bisa melayani. Mungkin Bapak berpikir, air dan kendi seharga kendi, itu benar. Tapi kesegaran air dalam kendi ini berbeda dengan air biasa.”
“Di mana pun air tetap air, dan rasanya sama!”
“Saya menghargai persepsi Bapak. Tapi Bapak dapat membandingkan air kemasan dengan air dalam kendi ini. Sekiranya berkenan, silakan Bapak mencobanya,” kata saya terus berbegas mencari beberapa gelas minuman air kemasan ke warung sebelah. Sedang air kendi itu tampak berembun.
“Monggo …,” saya lalu menuangkan air dari kendi itu ke dalam gelas.
Dengan kikuk lelaki itu menerima gelas air kendi, mencicipinya, lalu menegaknya hingga separo… dan Nyess di Hati!
“Bapak mau membandingkan dengan air kemasan ini?”
“Oo, tidak! Terima kasih,” sanggahnya kikuk, tapi tampak kekakuan mulai mencair.
“Berapa saya harus bayar…?”
“Oo, air kendi ini untuk bapak. Sebagai pertemanan kita, bapak sudi mampir di kedai saya.”
“Bapak jualan lho …,” desaknya sambil memaksa saya untuk menerima uang.
“Ya, tapi untuk lain kali saja.”
Lelaki itu tersenyum, mengucap terima kasih, lalu meninggalkan saya sendirian.
Samar … sangat samar, saya teringat kembali kata-kata orang bijak. Bahwa Allah mampu menyamar sebagai orang papa, miskin, berkebutuhan khusus, bahkan orang yang kasar sekalipun. Tapi yang utama, bagaimana kita mampu menghadirkan Allah dalam kerendahan hati untuk melayani…(MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

